Hajatan pilkada serentak yang diikuti 270 daerah telah selesai dilaksanakan. Kendati terlaksana dengan tertib, aman, dan damai, bukan berarti tidak menuai kontroversi. Bukan hanya karena digelar di tengah pandemi Covid-19, tapi juga karena calon yang terpilih dianggap sebagai bagian dari politik kekerabatan. Nagara Institute mencatat, sebanyak 124 calon kepala daerah memiliki
Sistempemerintahan kerajaan Kediri terjadi beberapa kali pergantian kekuasaan , adapun raja - raja yang pernah berkuasa pada masa kerajaan Kediri adalah: Shri Jayawarsa Digjaya Shastraprabhu. Jayawarsa adalah raja pertama kerajaan Kediri dengan prasastinya yang berangka tahun 1104. Ia menamakan dirinya sebagai titisan Wisnu.
BeliSistem Politik Indonesia Online harga murah terbaru 2022 daerah Kabupaten Kediri di Tokopedia! ∙ Promo Pengguna Baru ∙ Kurir Instan ∙ Bebas Ongkir ∙ Cicilan 0%.
Singasaridan Majapahit. Singasari merupakan kerajaan yang memiliki usia paling singkat jika dibandingkan dengan kerajaan Hindu-Budha lainnya. Kerjaaan ini berdiri pada tahun 1222—sejak Ken Arok menyerang Kediri, dan berakhir pada tahun 1292. Ia berhasil mengalahkan Raja Kertajaya dengan bantuan para brahmana.
Vay Tiền Nhanh Chỉ Cần Cmnd Nợ Xấu. Contents1 Sejarah, Nama Raja, Perkembangan dan Peninggalan Kerajaan Sejarah Kerajaan Perkembangan Kerajaan Perkembangan Politik Kerajaan Karya Sastra Kerajaan Sistem Pemerintahan Kerajaan Kehidupan Sosial Masyarakat Golongan Masyarakat Kerajaan Kehidupan Ekonomi Kerajaan Beberapa Raja Dari Kerajaan 1. Airlangga ketika Daha masih menjadi kota yang utuh 2. Sri Samarawijaya ketika Daha sudah menjadi Ibu Kota Panjalu 3. Sri 4. Sri 5. Sri 6. Sri 7. Sri 8. Sri 9. Sri 10. Sri Lencana Kerajaan Lencana pertama Lencana kedua Lencana ketiga Lencana keempat Lencana kelima Lencana keenam Lencana ketujuh Kehidupan Beragama Masyarakat Kesenian Masyarakat Kerajaan Keruntuhan Kerajaan Share thisSejarah, Nama Raja, Perkembangan dan Peninggalan Kerajaan KediriKerajaan Kediri – Kerajaan Kediri atau disebut juga Panjalu adalah kerajaan di Jawa Timur, yang berdiri sejak tahun 1042 – 1222. Yang saat itu berpusat di Kota Daha atau yang sekarang disebut dengan Kota Kediri. Kota Daha sudah ada sejak sebelum Kerajaan Kediri tersebut didirikan, nama Daha sendiri adalah singkatan dari Dahanapura yang artinya Kora Api. Hal itu bisa dilihat dari sebuah Prasasti Pamwatan dari Airlangga, di tahun 1042. Di akhir tahun 1042 Airlangga terpaksa harus membagi wilayah kerajaan, karena adanya perebutan tahta dari dua orang putranya yang bernama Sri Samarawijaya yang mendapat Kerajaan Barat Panjalu di Kota Daha, dan Mapanji Garasakan yang mendapat Kerajaam Timur di Janggala Kota Lama Kerajaan KediriSebelum kerajaannya terbagi menjadi dua, kerajaan yang dipimpin oleh Airlangga ini memiliki nama Panjalu, yang ada di Kota Daha. Kerajaan Janggala terlahir dari pecahan Panjalu, sedangkan kerajaan kahuripan adalah kota lama yang ditinggalkan oleh Airlangga. Yang kemudian menjadi Kota awalnya nama Panjalu ini lebih sering digunakan dibandingkan nama Kediri, atau Kadiri yang terbukti dari isi prasasti dari Raja-raja Kediri. Nama Panjalu dikenal dengan nama Pu Chia Lung, pada kronik Cina yaitu Ling Wai Tai Ta pada tahun 1178. Kediri atau Kadiri berasal dari kata Kadhri dari bahasa sansekerta, yang artinya pohon mengkudu atau pohon Kerajaan KediriAwalnya kerajaan Kediri tidak terlalu diketahui asal usulnya, pada Prasasti Turun Hyang II di tahun 1104 atas nama Sri Jayawarsa ditemukan. Dari beberapa raja sebelum Raja Sri Jayawarsa, hanya Raja Sri Samarawijaya saja yang diketahui. Untuk urutan raja setelah Raja Sri Jayawarsa, diketahui secara jelas dari prasasti yang kemudian ditemukan. Kerajaan Panjalu berada di bawah kekuasaan Sri Jayabhaya yang dapat menaklukan Kerajaan Janggala, dengan semboyan yang ada di Prasasti Ngantang pada tahun 1135 yaitu Panjalu Jayati atau Panjalu masa pemerintahan Jayabhaya tersebut Kerajaan Panjalu mendapatkan masa kejayaannya, dan wilayah itu merupakan seluruh Jawa dan beberapa pulau Nusantara. Serta mengalahkan pengaruh yang berasal dari Kerajaan Sriwijaya di Sumatera. Bukti ini diperkuat dengan Kronik Cina, yang judulnya Ling Wai Tai Ta dari Chou Ku Fei di tahun 1178. Pada prasasti itu dijelaskan bila menjadi negeri yang paling kaya selain Cina, secara berurutan adalah Arab, Jawa, dan Sumatera yang saat itu berkuasa di Arab adalah Bani Abbasiyah. Di daerah Jawa yaitu Kerajaan Panjalu dan di Sumatera adalah Kerajaan Ju Kua telah melukiskan bahwa di Jawa saat itu menganut dua jenis agama yaitu Budha dan Hindu. Dengan tipe penduduk Jawa yang pemberani dan hobi mengadu binatang. Mata uangnya terbuat dari campuran tembaga dengan perak. Di dalam buku Chu Fan Ci juga disebutkan bahwa Jawa merupakan Maharaja yang memiliki beberapa wilayah jajahan. Tepatnya di Pacitan [Pai hua yuan], Medang [Ma tung], Tumapel, Malang [Ta pen], Dieng [Hi ning], Hujung Galuh yang sekrang menjadi Surabaya [Jung ya lu], Jenggi, Papua Barat [Tung ki], Papua [Huang ma chu], Sumba [Ta kang], Sorong, Papua Barat [Kulun], Tanjungpura Borneo [jung wu lo], Banggal di Sulawesi [Pingya i], Timor [Ti wu] dan juga Maluku [Wu nu ku]. Pada tahun 2007 awal ditemukan situs Tondowongso, yang dipercaya sebagai peninggalan Kerajaan Kediri yang dianggap dapat membantu lebih banyak informasi mengenai Kerajaan Kediri kala Politik Kerajaan KediriMapanji Garasakan memiliki jangka waktu pemerintahan yang sebentar, yang kemudian digantikan oleh Raja Mapanji Alanjung tahun 1052 sampai 1059 M. setelah itu digantikan kembali oleh Sri Maharaja Amarotsaha. Pertempuran yang terjadi dari Janggala dan Panjalu, ternyata masih berlangsung sampai 60 tahun berikutnya. Walaupun tak ada berita dan informasi lagi mengenai kepastian kedua kerajaan tersebut, sampai muncul Kerajaan Bameswara di Kediri pada tahun 1116 sampai 1136 masa itu Ibu Kota Panjalu telah dipindahkan dari Daha ke Kediri, sehingga menjadi lebih dikenal dengan sebutan Kerajaan Kediri. Raja Bameswara mengenakan lencana yang bentuknya tengkorak, yang bertaring di bagian atas bulan sabit. Yang disebut dengan Candrakapala. Setelah Raja tersebut turun tahta, lalu dilanjutkan oleh Jayabhaya yang berhasil mengalahkan Sastra Kerajaan KediriDi masa sejarah Kerajaan Kediri seni sastra sering digunakan di tahun 1157, salah satunya yaitu Kakawin Bharatayuddha yang ditulis oleh Mpu Sedah. Yang lalu diselesaikan oleh Mpu Panuluh. Kitab tersebut memiliki sumber yang berasal dari Mahabrata, yang isinya yaitu kemenangan Pandawa atas Korawa yang digunakan sebagai kiasan kemenangan atas Sri Jayabhaya. Mpu Panuluh juga menulis Kalawin Hariwangsa dan Ghatotkachasraya. Ada pula Pujangga di masa pemerintahan Sri Kameswara, yaitu Mpu Dharmaja yang menulis Kakawin Smaradahana. Kemudian di masa pemerintahan Kertajaya juga ada Pujangga yang bernama Mpu Monaguna, yang menulis Sumanasantaka. Dan Mpu Triguna yang menulis Pemerintahan Kerajaan KediriDi masa pemerintahan Kerajaan Kediri, telah mengalami beberapa pergantian kekuasaan dan ada beberapa Raja yang berkuasa kala itu. Raja pertama dari Kerajaan Kediri adalah Sri Jayawarsa Digjaya Shastraprabhu. Jayawarsa dinamakan sebagai titisan wisnu, yang tertulis di dalam prasasti berangka 1104. Kemudian raja yang kedua adalah Kameswara dengan gelar Sri Maharajake Sirikan Shri Kameshhwara Sakalabhuwanatushtikarana Sarwaniwaryyawiryya Parakrama Digjayottunggadewa atau lebih dikenal dengan Kameshwara I tahun 1115 sampai 1130. Prabu Sarwaswera adalah raja yang dikenal taat dalam beribadah, budaya, dan memegang teguh prinsip tat wam asi yang memiliki arti, Dikaulah itu, , dikaulah semua itu, semua makhluk adalah Prabu Sarwaswera, tujuan hidup manusia yang terakhir adalah Mooksa. Yaitu pemanunggalan jiwatma dengan paramatma. Atau jalan yang benar adalah jalan yang menuju ke arah kesatuan, segala sesuatu yang menghalangi kesatuan tersebut adalah tidak Kroncharyadipa adalah nama dengan arti benteng kebenaran, Prabu sangat adil pada masyarakat dan seorang pemeluk agama yang taat. Khususnya dalam mengendalikan diri ketika sedang memerintah. Ia memiliki prinsip sad kama murka, yakni enam macam musuh dalam diri manusia. Keenam itu adalah kroda marah, moha kebingungan, kama hawa nafsu,loba rakus,mada mabuk, masarya iri hati.Kehidupan Sosial Masyarakat KediriKehidupan di masa Kerajaan Kediri terbilang baik dan sejahtera. Sehingga rakyat juga hidup dengan tenang saat itu. Hal ini dapat terlihat dari keadaan rumah rakyat yang baik, rapi dan juga bersih. Bahkan dilengkapi dengan ubin yang berwarna kuning, dan hijau. Para penduduknya menggunakan kain sampai di bawah lutut. Kehidupan masyarakat di Kerajaan Kediri terbilang tenang dan damai, seni kesusastraannya jauh lebih berkembang dibanding seni sastra. Hal itu dapat dilihat jumlah sastra yang begitu banyak bahkan sampai saat ini. Yakni beberapa sastra yang telah diulas tersebut, dan masih banyak lagi kitab sastra lainnya seperti misalnya kitab Lubdaka dan Wertasancaya dari Mpu Tan Akung, Kitan Kresnayana dari Mpu Triguna serta Kitab Sumanasantaka dari Mpu Monaguna dan Masyarakat Kerajaan KediriMasyarakat di masa Kerajaan Kediri dibagi menjadi tiga kedudukan, diantaranya yaitu Golongan masyarakat pusat atau kerajaan yaitu masyarakat yang ada di dalam lingkungan raja, dan beberapa kerabat yang ada di dalam kelompok masyarakat thani atau daerah yaitu golongan masyarakat yang terdiri dari petugas pemerintahan, atau pejabat yang ada di wilayah thani atau masyarakat non pemerintah yaitu golongan masyarakat yang tidak memiliki kedudukan, dan hubungan dengan pemerintah ataupun masyarakat Kediri memiliki lebih dari 300 pejabat, yang tugasnya yaitu mengurus dan mencatat segala sesuatu penghasilan di dalam kerajaan. Ada juga 1000 pegawai rendahan yang tugasnya yaitu mengurus benteng, parit kota, perbendaharaan Kerajaan serta gedung tempat persediaan makanan. Kerajaan Kediri lahir dari pembagian Kerajaan Mataram, yang dilakukan oleh Raja Airlangga tahun 1000 sampai tahun 1049. Hal itu dilakukan agar tidak terjadi perselisihan, yang dilakukan oleh anak-anak Ekonomi Kerajaan KediriKehidupan perekonomian di Kerajaan Kediri memiliki beberapa jenis usaha seperti perdagangan, pertanian dan juga peternakan yang dikenal sebagai penghasil kapas, beras dan ulat sutra. Hal ini menyebabkan kehidupan ekonomi Kerajaan Kediri terbilang makmur. Hal itu dapat dilihat dari kerajaan yang mampu memberikan penghasilan tetap, untuk para pegawainya berupa hasil bumi. Hal ini juga diperoleh dari keterangan Kitab Chi Fan Chi, dan Kitab Ling Wai Tai Raja Dari Kerajaan kediri1. Airlangga ketika Daha masih menjadi kota yang utuhPendiri Kota Daha adalah pindahan dari Kota Kahuripan, yang turun tahta di tahun 1042. Sehingga kerajaan dibagi menjadi dua. Daha menjadi ibu kota Kerajaan Barat yaitu Panjalu. Menurut Nagarakretagama kerajaan yang dipimpin oleh Airlangga, sebelum dibagi menjadi dua memiliki nama Sri Samarawijaya ketika Daha sudah menjadi Ibu Kota PanjaluSri Samarawijaya merupakan salah satu putra dari Airlangga, yang namanya juga ditemukan pada Prasasti Pamwatan di tahun Sri JayawarsaDilihat dari Prasasti irah Keting tahun 1104, tidak diketahui apakah Sri Jayawarsa merupakan pengganti Sri Samarawijaya atau bukan. Di masa pemerintahannya Jayawarsa memberi hadiah untuk para rakyat di desa, sebagai wujud suatu penghargaan. Karena rakyat sudah berjasa pada raja. Di dalam prasasti tersebut disebutkan juga bahwa Jayawarsa memiliki perhatian yang besar pada rakyatnya, dan ingin membuat rakyat menjadi Sri BameswaraBerdasarkan Prasasti Padelegan di tahun 1117, Prasasti Panumbangan tahun 1120 dan juga Prasasti Tangkilan tahun 1130 menyebutkan raja berikutnya adalah Sri Bameswara. Prasasti-prasasti tersebut juga membahas tentang Sri JayabhayaRaja terbesar di Kerajaan Panjalu berdasarkan Prasasti Ngantang tahun 1135, Prasasti Talan tahun 1136 serta Kakawin Bharatayuddha tahun 1157 adalah Jayabhaya. Kerajaan Kediri mencapai puncaknya di masa pemerintahan Jayabhaya, karena ia memiliki strategi yang bagus dalam memakmurkan rakyatnya. Kerajaan yang beribu kota di Dahono Puro di bawah kaki Gunung Kelud tersebut, memiliki tanah yang subur sehingga segala jenis tanaman bisa tumbuh dengan baik. Hasil pertanian dan perkebunan pun melimpah, selain itu di bagian tengah Kota terdapat aliran sungai yang jernih dan menjadi tempat hidup berbagai jenis ikan. Makanan yang kaya akan protein pun bisa terpenuhi dengan baik. Dukungan spiritual dan material diberikan kepada Prabu Jayabhaya, dengan sifatnya yang merakyat dan tujuan yang jauh ke depan membuatnya dikenal sepanjang Sri AryeswaraBerdasarkan prasasti Angin yang dibuat tahun 1171, ketika itu Kediri diperintah oleh Sri Aryeswara. Ia menjadi raja Kediri sekitar tahun 1171, dan memiliki gelar abhisek yaitu Sri Maharaja Rake Hino Sri Aryeswara Madhusudanawatara Arijamuka. Tetapi tidak diketahui dengan pasti kapan Sri Aryeswara naik tahta, dan peninggalan sejarahnya yaitu Prasasti Angin di tanggal 23 Maret 1171. Lambang Kerajaan Kediri di kala itu adalah Ganesha. Tidak diketahui pasti kapan Sri Aryeswara mengakhiri masa Sri GandaDilihat dari Prasasti Jaring tahun 1181. Pemakaian nama hewan untuk pangkat seperti misalnya gajah, tikus, dan kerbau memperlihatkan tinggi rendahnya pangkat seseorang di dalam istana saat Sri SarwasweraDapat dilihat di Prasasti Padegelan II pada tahun 1159, dan Prasasti Kahyunan di tahun 1161. Sri Sarwaswera adalah raja yang taat beragama dan berbudaya. Ia juga memegang teguh prinsip “tat wam asi”, yang artinya “dikaulah itu, dikaulah semua itu, semua makhluk adalah engkau”. Prabu Sri Sarwaswera berpendapat bahwa tujuan akhir manusia adalah Moksa, yaitu pemanunggalan jiwatma dengan paramatma dan jalan kebenaran merupakan suatu jalan untuk kesatuan sehingga yang menghalangi kesatuan adalah hal tidak Sri KameswaraBerdasarkan Prasasti Ceker di tahun 1182, dan Kakawin Smaradahana. Di masa pemerintahan Sri Kameswara dari tahun 1182, sampai tahun 1185 masehi terjadi perkembangan yang pesat di dalam sastra Mpu Dharmaja. Yang membuat Kitab Smaradhana dan juga dikenal dengan beberapa cerita Panji seperti cerita Panji Sri KertajayaBerdasarkan Prasasti Galunggung tahun 1194, Prasasti Kamulan tahun 1194, Prasasti Palah tahun 1197, Prasasti Wates Kulon tahun 1205, Negarakretagama serta Pararaton. Raja Kertajaya ini dikenal dengan nama Dandang Gendis. Di masa pemerintahannya kerajaan mulai mengalami penurunan, karena Kertajaya mengurangi hak yang dimiliki Kaum Brahmana. Keadaan itu membuat Kaum Brahmana dan kedudukan mereka semakin tidak aman. Sehingga banyak dari mereka yang lari dan meminta pertolongan Tumapel, yang saat itu diperintah oleh Ken Arok. Kemudian Raja Kertajaya menyiapkan pasukan untuk menyerang Tumapel, dan Ken Arok memberi dukungan untuk Kaum Brahmana. Untuk melakukan penyerangan ke Kerajaan Kediri, kedua pasukan itu bertemu di dekat Ganter pada tahun 1222 Kerajaan KediriSetiap kerajaan yang ada di Indonesia memiliki lencananya masing-masing, yang menjadi simbol kekuasaan di masa-masa pemerintahannya. Termasuk di Kerajaan Kediri. Setiap raja memiliki lencana yang berbeda, dengan makna dan pesan yang juga berbeda-beda. Ada tujuh buah lencana yang terdeteksi, yang mewakilkan setiap kekuasaan raja pertama GarudmukhalancanaLencana ini bergambar burung garuda, jauh sebelum NKRI menggunakan lambang garuda tersebut. raja Airlangga adalah pendiri dari Kerajaan Panjalu, yang memakai garuda sebagai lambang lencananya. Pada setiap Prasasti yang ada, selalu dibubuhkan stempel garudamukhalanaca tersebut oleh Airlangga. Yang berada di bagian mulut Gua Selomangleng Kediri. Hingga kini relief tersebut masih dapat kedua BamecwaralancanaLencana berikutnya memiliki lambang tengkorak yang sedang menggigit bulan sabit, yang dipakai sebagai lencana Cri Maharaja Cri Bamecwara Sakalabuanatustijarana Sarwwaniwaryyawiryya Parakrama ketiga JayabhayalancanaLencana ini memiliki tanda satu avatara Dewa Wisnu yakni Narasinghavatara, yang memiliki wujud manusia berkepala singa yang sedang mencabik-cabik perut Hiranyakasipu [Raja Raksasa]. Di lencana tersebut terdapat tulisan Panjalu Jayati, yang bentuknya sudah sulit dikenali. Hingga kini disimpan di Musieum Nasional keempat SarwwecwaralancanaLencana keempat dipakai oleh ri Maharaja Rakai Sirikan Cri Sarwwecwara Janarddhanawatara Wijayagrajasama Singhanadaniwaryyawiryya Parakrama Digjayatungga-dewanama. Bila dilihat lagi di dalam lencana tersebut terdapat 9 sayap di bagian ujung, dan ada lingkaran berjambul yang dikelilingi oleh tiga lingkaran yang kelima AryyecwaralancanaLencana ini memiliki lambang ganesha yang digunakan oleh Cri Maharaja Rakai Hino Cri Aryyecwara Madhusudanawatarijaya Mukha, Sakalanhuana tustikarana niwaryya keenam KamecwaralancanaLencana keenam memiliki gambar kerang yang memiliki sayap yang dipakai oleh Cri Maharaja Cri Kamecwara Triwikramawatara Aniwaryyawirya Parakrama ketujuh CrnggalancanaLencana ini dipakai oleh Cri Maharaja Cri Carwwecwara Triwikamawatara Nindita Cringgalancana Digjayotunggadewa atau Kertajaya. Yang menjadi raja terakhir di Kerajaan Beragama Masyarakat KediriCorak kehidupan beragama pada masyarakat Kediri bisa dilihat dari peninggalan arkeologinya, seperti misalnya Candi Gurah serta Candi Tondo Wongso. Yang menunjukkan bahwa latar belakang agama di sana adalah Hindu Siwa. Untuk pertirtaan kepung diperkirakan juga beragama Hindu, karena tidak terlihat unsur Budhaisme pada beberapa peninggalan bangunan bersejarah di sana. Di beberapa prasasti yang ada, juga disebutkan bahwa nama Abhiseka raja memiliki arti penjelmaan dari Dewa Wisnu. Namun hal ini tidak dapat secara langsung digunakan sebagai bukti, bahwa Wisnuisme berkembang di masa itu. Karena landasan filosofis yang berkembang di Jawa pada masa itu, beranggapan bahwa Raja Saa dan Dewa Wisnu adalah pelindung rakyat, raja bahkan dunia. Bila dilihat lagi secara luas, agama Hindu khususnya pemujaan Siwa sangat mendominasi perkembangan agama di masa Kerajaan Kediri. Hal ini bisa dilihat dari prasasti, arca dan penemuan karya sastra jawa Masyarakat Kerajaan KediriPerubahan yang ada di bidang kesenian pada Kerajaan Kediri, hanya terbatas pada kesenian arsitektur. Yang banyak dipertanyakan oleh orang-orang, mengapa di masa Kerajaan Kediri tidak membuat candi seperti di masa-masa sebelum dan sesudahnya. Baru terbukti sekarang bahwa satu per satu kesenian dari Kerajaan Kediri mulai ditemukan. Candi Gurah adalah yang masih tersisa, yang memiliki pelipit sisi genta di kaki Candi Perwara. Sedangkan pada Candi Induk memiliki makara di bagian ujung bawah tangga, dan beberapa ciri itu menunjukkan gaya kesenian Jawa Tengah pada abad ke VII di beberapa arca yang sangat indah, juga memperlihatkan gaya kesenian yang berasal dari Singasari di abad XIII masehi. Perbedaan tersebut belum dapat dijelaskan secara gamblang sampai saat ini. Walaupun Candi Gurah juga pernah diperbesar tetapi di beberapa arca tidak berasal dari tahapan tersebut. terutama pada arca yang telah berumur dan belum juga ditemukan. Dari sumuran Candi telah ditemukan bata yang terinskripsi, dengan seni paleografi dan tulisannya berasal dari abad ke XI – XII masehi. Inkripsi singkat itu dapat digunakan sebagai patokan, dalam menentukan tanggal darii arca Gurah. Soejmono mengatakan bahwa Candi Gurah adalah mata rantai diantara kesenian di Jawa Tengah dan Jawa Kerajaan KediriPada tahun 1222 raja Kertajaya berseteru dengan Kaum Brahmana, kemudian meminta perlindungan pada Ken Arok Akuwu Tumapel, Ken Arok juga memiliki cita-cita untuk membuat Tumapel merdeka dan menjadi daerah bawahan Kerajaan Kediri. Perang Kediri Tumapel terjadi di Desa Ganter, pasukan Ken Arok pun berhasil menghancurkan pasukan Kertajaya. Sehingga Kerajaan Kediri mulai runtuh, dan berbalik menjadi bawahan Tumapel atau Singasari. Setelah Ken Arok berhasil mengalahkan Kertajaya, Kediri pun menjadi di bawah wilayah kekuasaan Singasari. Ken Arok juga mengangkat Jayabhaya, putra Kertajaya untuk menjadi Bupati tahun 1258 Jayabhaya digantikan oleh putranya yang bernama Sastrajaya, kemudian di tahun 1271 Sastrajaya digantikan juga oleh putranya yaitu Jayakatwang. Jayakatwang melakukan pemberontakan pada Singasari, yang dipimpin oleh Ken Arok. Setelah membunuh Kertanegara, Jayakatwang pun membangun ulang Kerajaan Kediri. Tetapi kerajaan itu hanya bertahan 1 tahun saja, karena terjadinya serangan dari gabungan pasukan mongol dan pasukan menantu Kertanegara yaitu Raden ulasan dan pembahasan lengkap mengenai sejarah Kerajaan Kediri. Semoga dapat menambah wawasan anda dalam sejarah kerajaan di Juga Pengertian Teks Laporan Percobaan Ciri, Struktur, Cara Membuat, Dan Contohnya LengkapApa Itu Psikotropika Dan Bahayanya Secara Lengkap
Sejarah panjang bangsa Indonesia, salah satunya melewati fase masa kerajaan, baik yang bercorak Hindu-Budha ataupun Islam. Nah, salah satu yang terkenal ini adalah Kerajaan Kediri, yang diketahui punya kemajuan dalam bidang hukum dan tata negara serta budaya sastra. Akibat pegelolaan negaranya yang baik, kerajaan ini banyak disebut sebagai negara yang gemah ripah loh jinawi, tentrem karta raharja. Nah, seperti apa sih sejarah dan perkembangan Kerajaan Kediri ini? Berikut adalah ulasan lengkap Kerajaan Kediri yang kami sajikan khusus buat kamu. Check it out! Sejarah Kerajaan KediriLokasi, Letak Geografis, dan peta WilayahSilsilah Raja1. Raja Sri Jayawarsa2. Raja Bameswara3. Raja Jayabaya4. Raja Sri Sarweswara5. Raja Sri Aryeswara6. Raja Sri Ganda7. Raja Sri Kameswara8. Raja Sri KertajayaLencana KerajaanSistem Pemerintahan1. Kitab Undang-undang2. Sistem Peradilan3. Hukum Positif Dan Budaya Simbolik4. Karya di Bidang Hukum Tata NegaraKehidupan di Kerajaan Kediri1. Kehidupan Politik2. Kehidupan Ekonomi3. Kehidupan Agama4. Kehidupan Sosial BudayaMasa KejayaanPenyebab KeruntuhanBukti Sejarah1. Candi Tondowongso2. Candi Panataran3. Candi Gurah4. Candi Mirigambar5. Candi Tuban6. Prasasti Kamulan7. Prasasti Galuggung8. Prasasti Jaring9. Prasasti Panumbangan10. Prasasti Talan11. Prasasti Sirah Keting12. Prasasti Kertosono13 Prasasti Nganthang14. Prasasti Padelegan15. Prasasti Ceker16. Arca Buddha VajrasattvaPeninggalan1. Kitab Baratayudha2. Kitab Sumarasantaka3. Kitab Gatotkacaryasa4. Kitab Smaradhana5. Kitab Kresnayana6. Kitab Hariwangsa7. Kitab Wertasancaya8. Kitab Lubdaka Sumber gambar Lahirnya Kerajaan Kediri tak lepas dari sejarah Kerajaan Medang Kamulan. Kerajaan Kediri merupakan hasil dari perpecahan Kerajaan Medang Kamulan yang dipecah jadi 2 oleh Raja Airlangga. Airlangga sendiri merupakan Raja Medang Kamulan yang naik tahta tahun 1019 Masehi, dengan kondisi kerajaan yang sedang mengalami penurunan. Berkat kearifannya, Medang Kamulan pun berhasil dikembalikan situasinya. Setelah itu, Ibu kota pemerintahan pun dipindah ke daerah Kahuripan dan akhirnya mencapai puncak kejayaan. Menurut berita yang dimuat dalam Serat Calon Arang, di akhir masa kepemimpinannya, Airlangga memindahkan pusat kerajaan ke Kota Daha. Sementara setelah itu ia juga ikut mengundurkan diri dari kerajaan untuk menjadi seorang pertapa yang dikenal dengan nama Resi Gentayu. Penerus tahta kerajaan jatuh ke tangan putrinya yang bernama Sri Sanggramawijaya. Tapi, karena ia juga ingin jadi seorang pertapa, tahta kerajaan akhirnya diperebutkan oleh kedua putranya, yakni Sri Samarawijaya dan Mapanji Garasakan. Untuk menghindari perebutan kekuasaan di internal kerajaan, akhirnya Airlangga memecah Medang Kamulan terlebih dahulu menjadi 2 kerajaan, yakni Jenggala dan Panjalu. Panjalu menjadi wilayah milik Sri Samarawijaya atau Sri Jayawarsa, dengan pusat kota di Daha. Sementara, Mapanji Garasakan memperoleh wilayah di Kota Kahuripan dengan Kerajaan Jenggala. Sebenarnya, tidak ditemui secara pasti mengenai pemecahan kerajaan tersebut. Tapi, berdasarkan Prasasti Babad, disebutkan juga kalau kerajaan dipecah jadi 4 atau 5 bagian. Dalam waktu-waktu berikutnya, hanya menyisakan 2 kerajaan yang kerap disebutkan, yakni Jenggalan dan Panjalu. Upaya Airlangga membagi kekuasaan ini pun kelihatannya menemui kegagalan, sebab kedua kerajaan tetap berseteru setelah itu. Kedua kerajaan terus saling berperang dan saling membunuh satu sama lain. Lama-kelamaan Kerajaan Panjalu berkembang pesat hingga menjadi kerajaan yang besar, sementara Kerajaan Jenggala kian terpuruk oleh keadaannya. Akhirnya, pertempuran tersebut dimenangkan oleh Kerajaan Panjalu di bawah komando Prabu Jayabaya. Dalam perkembangannya, Kerajaan Panjalu ini kemudian lebih dikenal dengan nama Kerajaan Kediri. Lokasi, Letak Geografis, dan peta Wilayah Sumber gambar Kerajaan Kediri merupakan sebuah kerajaan bercorak Hindu yang berdiri antara tahun 1042 Masehi hingga 1222 Masehi. Pusat pemerintahannya terletak di Kota Daha, atau yang sekarang menjadi wilayah Kota Kediri. Sebenarnya, nama Daha berasal dari kata Dahanapura, yang diartikan sebagai Kota Api. Penaman ini dapat ditemukan dalam Prasasti Pamwatan yang dibuat Raja Airlangga tahun 1042 Masehi. Sebelum di Daha, pusat kerajaan awalnya berada di Kota Kahuripan. Hal ini sesuai dengan apa yang terpahat dalam prasasti buatan tahun 1042 Masehi dan Serat Calon Arang. Silsilah Raja Sumber gambar Kediri, tidak pernah diperintah oleh delapan orang raja dari awal hingga akhir sejarahnya. Puncak kejayaannya terjadi pada saat Raja Jayabaya memimpin kerajaan. Nah, dengan sistem pemerintahan monarki, tonggak kekuasaan di Kediri mengalami beberapa kali perpindahan. Berikut ini adalah raja-raja yang pernah berkuasa di Kediri. 1. Raja Sri Jayawarsa Raja Jayawarsa mulia memimpin Kediri pada tahun 1104 Masehi. Semasa berkuasa, ia dianugrahi gelar Sri Maharaja Jayawarsa Digja Sastraprabhu. Tidak ditemukan bukti pasti kapan Raja Sri Jayawarsa ini naik singgasana, begitu juga kapan turun tahtanya. Sebab, Prasasti Panumbangan yang dibuat tahun 1120 Masehi hanya menyebutkan upacara pemakamannya saja yang berlokasi di Gajapada. 2. Raja Bameswara Nama Raja Bameswara banyak disebutkan dalam prasasti yang ditemukan di Tulungagung. Selain di daerah tersebut, prasasti-prasasti ini ternyata juga banyak terdapat di Kertosono. Sebagian besar prasasti ini bertema tentang keagamaan, sehingga memudahkan para peneliti dalam menyimpulkan corak pemerintahan Bameswara. Era kepemimpinannnya terjadi pada tahun 1117-1135 Masehi. 3. Raja Jayabaya Titik puncak kejayaan Kediri, terjadi pada masa pemerintahan Jayabaya. Selama memerintah pada tahun 1135-1157 Masehi, banyak golongan cendikiawan yang mendampingi kepemimpinannya. Misalnya saja ada Mpu Panuluh, Triguna, Sedah, Darmaja, dan Manoguna. Era kecemerlangan ini bisa dijumpai dalam kitab hukum Kakawih Baratayudha, Hariwangsa, dan Gathotkacasarya. Strateginya yang terbilang cukup jitu, membuktikan bahwa Jayabaya berhasil membawa rakyatnya ke dalam kesejahteraan dengan tanah yang subur dan hasil panen yang melimpah. 4. Raja Sri Sarweswara Pada rahun 1159-1161 Masehi, Kerajaan Kediri diperintah oleh Raja Sri Sarweswara. Beliau dikenal sebagai sosok yang teguh memegang prinsip agama serta budaya, seperti ajaran tat wam asi, yang artinya “Engkaulah itu, engkaulah seuanya itu, semua makhluk adalah engkau. 5. Raja Sri Aryeswara Sri Aryeswara disinyalir berkuasa di Kediri pada tahun 1171 Masehi, sesuai informasi sejarah yang terdapat pada Prasasti Angin. Belum ditemukan bukti pasti, kapan ia naik singgasana, begitu juga kapan berakhirnya. Pada era kekuasaan Sri Aryewara inilah, simbol kerajaan secara resmi menggunakan lambang Ganesha. 6. Raja Sri Ganda Berdasarkan penemuan Prasasti Jaring yang dibuat tahun 1181 Masehi, disebutkan kalau Raja Sri Ganda memimpin Kediri di sekitar tahun tersebut. Lewat informasi prasasti itu juga, diketahui bahwa istilah-istilah penyebutan pejabat tinggi kerajaan memakai nama-nama hewan. 7. Raja Sri Kameswara Selanjutnya, pada tahun 1182-1185 Masehi, giliran Sri Kameswara yang berkuasa. Pada era kepemimpinan ini, budaya senin sastra terbilang cukup pesat berkembang. Sastrawan yang terkenal pada masa ini contohnya adalah Mpu Dharmaja dengan karyanya, Samaradha. 8. Raja Sri Kertajaya Sri Kertajaya adalah raja terakhir yang memimpin Kerajaan Kediri. Ia berkuasa selama 32 tahun, yakni pada 1190-1222 Masehi. Di era kekuasaannya, stabilitas kerajaan mulai menurun karena ia mulai mengurangi hak-hak yang harusnya diberikan pada para brahmana. Nah, karena merasa kedudukannya sudah tidak aman lagi, para brahmana ini lari ke daerah Tumapel dengan meminta perlindungan Ken Arok. Berawal dari sinilah tumbangnya kekuasaan Sri Kertajaya dan menjadi akhir bab riwayat Kerajaan Kediri. Lencana Kerajaan Sumber gambar Pada zaman dahulu, menjadi sebuah kelaziman apabila setiap kerajaan atau raja mempunyai lencana sebagai lambang kekuasaannya. Setiap lencana memiliki bentuk yang berbeda-beda sebagai representasi sang empunya. Dalam kisah ini, setidaknya ada 7 macam lencana yang pernah digunakan oleh pemimpin Kerajaan Kediri. Saat ini, lencana-lencana tersebut disimpan di dalam Museum Airlangga dan tempat-tempat lainnya. Berikut ketujuh lencana tersebut. 1. Garudha Mukha Lancana Lencana ini digunakan oleh Sri Maharaja Airlangga. Di permukaannya terdapat gambar garuda, yang juga ditemui dalam prasasti-prasasti yang dibuat pada era kekuasaannya. 2. Bamecwara Lancana Lencana ini dipakai oleh Raja Bameswara. Pada lencana ini, terdapat gambar tengkorak yang menggigit bulan sabit. 3. Jayabhaya Lancana Selanjutnya, lencana ini digunakan oleh Jayabaya. Wujudnya berupa manusia berkepala singa, yang menggigit perut Hiranyakasipu, yang merupakan simbol raja raksasa. Lencana ini bisa dijumpai di Prasasti Hantang, tahun 1135 Masehi. 4. Sarwwecwara Lancana Lencana ini digunakan pada masa kekuasaan Raja Sarweswara. Sayangnya, bentuk lencana ini cukup sulit dikenali karena fisiknya yang sudah rusak. Jika diperhatikan, gambar pada lencana mirip sembilan sayap yang dikelilingi 3 bulatan bergaris. Di bagian ujung sayap-sayap tersebut juga tergambar jambul lingkaran. 5. Aryyecwara Lancana Lencana ini bergambar Ganesha yang dipakai pada zaman kekuasaan Raja Aryeswara. Sementara pada pahatannya, terdapat Prasati Mleri 1169 Masehi dan Prasasti Angin 1171 Masehi. 6. Kamecwara Lancana Lencana ini dikeluarkan pada masa pemerintahan Raja Kameswara. Pada Prasasti Semanding 1182 Masehi, diketahui terdapat pahatan lencana ini juga. 7. Crngga Lancana Yang ini digunakan pada era kekuasaan Kertajaya. Di awal masa pemerintahannya, gambar lencana diisi oleh dua tanduk yang mengapit dua cangka, lalu disambung dengan tulisan “Kertajaya” di atasnya. Pola ini kemudian berubah jadi tanduk yang menghimpit kotak miring berlipat dan dikelilingi sayap. Sistem Pemerintahan 1. Kitab Undang-undang Sumber gambar Untuk membuat kitab undang-undang kerajaan, para ahli hukum negara ditunjuk oleh pemerintah untuk bergabung ke dalam Dewan Kapujanggan Istana. Pada proses penyusunannya, para anggota dewan ini sering mengadakan studi banding ke negeri lain. Lalu dihasilkanlah kitab undang-undang yang dinamakan Kitab Dharmaparaja, yang isinya berupa tata tertib penyelengaraan pemerintah dan negara. Di dalamnya juga ada tata kelola hukum pidana dan perdata, walau pada zaman itu belum terperinci secara jelas perbedaan kedua hukum ini. 2. Sistem Peradilan Sumber gambar Hukum peradilan yang berlaku di Kerajaan Kediri punya tujuan untuk mencapai kepastian hukum, sehingga hak dan kewajiban rakyatnya bisa dijamin oleh pemerintah. Semua pejabat dan rakyat, dituntut untuk tunduk dan menghormati undang-undang yang berlaku. Semua keputusan pengadilan dikembalikan atas nama raja, yang diistilahkan dengan nama Sang Amawabhumi. Dua orang Adidarma Dyaksa ditugaskan untuk membatu raja dalam hal peradilan. Yang pertama, Adidarma Dyaksa Kasiwan bertugas sebagai kepala agama Siwa. Yang kedua, Adidarma Dyaksa Kabudan ditugaskan bekerja sebagai kepala agama Budha. Pengelompokan ini terjadi karena memang kedua agama inilah yang dianut oleh masyarakat Kerajaan Kediri dan undang-undang negara didasarkan pada agama. Kedua Adidarma Dyaksa ini kedudukannya setara dengan Hakim Tinggi dan dibantu oleh 5 orang Upapati atau Pamegat atau Hakim di dalam pengadilan. Adidarma Dyaksa dan Pamegat ini sama-sama diberi gelar Sang Maharsi. Lima orang Pamegat ini terdiri dari Tirwan, Maghuri, Kandamuhi, Pamotan, dan Jambi. Kelima pamegat ini adalah golongan kasiwan, karena agama siwa adalah agama resmi kerajaan. Pada era kekuasaan Jayabaya, ada penambahan 2 orang Upapati yang berasal dari golongan Kabudan, sehingga formasi nya terdiri dari 5 Upapati Kasiwan dan 2 Upapati Kabudan. Kedua Upapati Kabudan ini adalah Kandangan Rare dan Kandangan Tuha. Di bidang peradilan, kerajaan langsung bertanggung jawab kepada raja. Tapi untuk sengketa di internal keluarga raja, dipakai lembaga peradilan khusus untuk menghindari intervensi terhadap keputusan sidang. Untuk hal ini, raja mempunyai staff khusus yang sudah dipercaya kapasitas, integritas, dan kredibilitasnya. 3. Hukum Positif Dan Budaya Simbolik Sumber gambar Pada masa kepemimpinan Jayabaya, tata pelaksanaan negara memiliki dua prinsip, yakni dengan menerapkan hukum positif dan budaya simbolik. Hukum positif berlaku dengan dasar kesepakatan bersama, tertulis, serta bersifat mikro. Di bidang politik, ekonomi, organisasi, birokrasi, karier, perdagangan dan perkawinan juga diatur hukum positif dalam kerangka tertulis. Pelanggaran terhadap hukum ini akan diberi sangsi yang tegas berdasarkan hukum yang berlaku. Tapi, Raja Jayabaya merasa ini saja tidak cukup. Atas dasar analisa bahwa tidak semua lapisan masyarakat mengerti hukum positif ini dengan baik, khususnya kalangan awam, raja pun meminta diterapkan pendekatan simbolik. Bagi pelanggarnya, akan diberi sangsi yang tegas berupa hukuman yang dijatuhkan secara ghaib. Hasilnya pun cukup memuaskan, sebab masyarakat percaya terhadap nasihat-nasihat tersebut dan mau menjauhi larangannya. Di antara pujangga tersebut adalah Mpu Panuluh dan Mpu Sedah. Mpu Sedah, selain menulis buku pendekatan simbolik tersebut, juga menghasilkan karya lain yang berjudul Kakawin Bartayudha di tahun 1079 saka, bertepatan dengan 1157 Masehi. Tapi, sayangnya, sebelum buku ini rampung, ia sudah meninggal lebih dulu. Akhirya, Kakawin Baratayudha inipun dipersembahkan bagi Prabu Jayabaya, Mapanji Jayabaya, dan Jayabaya Laksana sebagai kenang-kenangan. Sebenarnya, pendekatan simbolik ini dibuat sebagai strategi untuk memecahkan ketimpangan yang terjadi di tengah masyarakat Kediri, karena tingkat kecerdasan nya pun berbeda. 4. Karya di Bidang Hukum Tata Negara Sumber gambar Pada era kekuasaan Prabu Jayawarsa, perkembangan ilmu hukum dan tata praja mendapat dukungan penuh. Cendekiawan mendapat biaya dan fasilitas yang cukup memadai untuk menggali idealismenya dalam memikirkan kerbelangsungan kerajaan. Salah satunya adalah Mpu Triguna dan Mpu Manoguna yang dirangkul Raja Jayawarsa menjadi penasihat kerajaan. Sesuai ulasan di atas, Mpu Triguna melahirkan Kakawin Kresnayana yang membahas bidang hukum dan tata praja. Sementara, Mpu Manoguna juga memiliki Kakawin Sumanasantaka. Isinya membahas tema yang disari dari Kitab Raguwangsa karya pujangga terkenal di India, Sang Kalisada. Pada era puncaknya, di era kepemimpinan Prabu Jayabaya, Kerajaan Kediri meraih kejayaan khususnya di bidang kehidupan sosial dan tata negara. Hariwangsa, Gatotkacasraya, dan Kakawih Baratayudha merupakan kitab-kitab yang berisi tentang tata kelola negara. Selain itu, ada juga Kitab Darmapraja, yang isinya membahas tata kelola penyelenggaraan negara dan pemerintah. Untuk membahas hukum tata praja, ada judul Kakawih Bomakawya dan Kakawih Smaradahana yang disusun oleh Mpu Dharmaja. Nah, aturan dan undang-undang yang cukup populer di Kediri antara lain berkaitan dengan 8 kejahatan, 8 penyimpangan administratif, pegadaian, perdagangan, serta hak dan kewajiban rakyat biasa. Kehidupan di Kerajaan Kediri 1. Kehidupan Politik Sumber gambar Sejarah Kerajaan Kediri tak jauh dari pergolakan perang dan perebutan kekuasaan. Pada masa kekuasaan Sri Maharaja Samarotsaha, dimulai pertempuran antara Panjalu dan Jenggala. Perang terus berlanjut sampai era kepemimpinan Raja Bameswara. Nama Kerajaan Kediri, mulai banyak disebut setelah terjadi perpidahan ibukota dari Daha ke Kediri. Setelah Bameswara turun tahta, lahirlah sosok Prabu Jayabaya yang kemudian berhasil menaklukkan Kerajaan Jenggala. Setelah memenangkan perang yang berlangsung puuhan tahun, kondisi kerajaan mulai membaik di bawah kekuasaannya. 2. Kehidupan Ekonomi Sumber gambar Perekonomian Kerajaan Kediri ditopang oleh beberapa sektor, seperti peternakan, pertanian, dan perdagangan. Pusat kerajaan yang terletak di Kota Daha, tepatnya di bawah kaki Gunung Kelud, membuat hasil perkebunan dan pertanian melimpah ruah. Ini tak lepas dari fakta bahwa kawasan tersebut memiliki tanah yang subur akibat erupsi Gunung Kelud. Hasil utama dari sektor pertanian adalah berupa beras, yang banyak yang diekspor ke Jenggala, dekat Surabaya, dengan transportasi perahu sungai. Kerajaan Kediri juga merupakan pusat penghasil kapas dan budidaya ulat sutra. Sementara, dari sektor perdagangan, warga setempat banyak menjual emas, perak, daging, dan kayu cendana. Dari parameter ini, bisa dikatakan masyarakat setempat sudah hidup makmur dan sejahtera pada masanya. Sehingga, tak ayal membuat Kerajaan Kediri pun layak menyandang predikat negara yang gemah ripah loh jinawi, tentrem karta raharja. Tingkat kesejahteraan ini juga bisa diukur dari kebijakan kerajaan untuk memberikan penghasilan tetap kepada para pejabatnya dalam bentuk hasil bumi. Informasi sejarah ini didapatkan dari catatan sejarah dalam Kitab Ling wai tai ta dan Kitab Chi Fan Chi. Sebagai bentuk penghasilan kerajaan, diberlakukan pemungutan pajak di seluruh wilayah kekuasaan, antara lain dibayar dalam bentuk beras, palawija, atau kayu. 3. Kehidupan Agama Sumber gambar Agama yang berkembang dan tersebar di Kerajaan Kediri adalah Agama Hindu aliran Waisnawa, yang percaya bahwa Airlangga merupakan titisan Dewa Wisnu. Di berbagai wilayah terdapat tempat ibadah yang banyak jumlahnya. Seseorang yang berperan sebagai guru kebatinan memiliki tempat terhormat di kalangan masyarakat, termasuk dari pejabat kerajaan. Sumber sejarah juga menyebutkan, kalau Prabu Jayabaya merupakan seorang raja yang rajin bersemedi, bertapa, dan tirakat di daerah yang sepi seperti di hutan. Aktifitas ini sudah menjadi rutinitasnya sehari-hari, dengan melakukan banyak puasa dan mengurangi waktu tidur selama tirakat. Dukungan spiritual ini makin ditingkatkan selama era kepemimpinannya demi mendukung keberlangsungan hukum dan pemerintahan. Sifatnya yang dermawan serta bijaksana, makin menempatkannya menjadi orang yang disanjung di tengah-tengah kehidupan rakyatnya. Khusus untuk mengatur kehidupan beragama ini, sudah di tata dalam undang-undang khusus. Berikut adalah isi hukum perundang-undangan tersebut. Bab I Sama Beda Dana Denda, berisi mengenai ketentuan diplomasi, aliansi, konstribusi dan sanksi. Bab II Astadusta, berisi mengenai sanksi delapan kejahatan penipuan, pemerasan, pencurian, pemerkosaan, penganiayaan, pembalakan, penindasan dan pembunuhan Bab III Kawula, berisi mengenai hak-hak dan kewajiban masyarakat sipil. Bab IV Astacorah, berisi mengenai delapan macam penyimpangan administrasi kenegaraan. Bab V Sahasa, berisi mengenai sistem pelaksanaan transaksi yang berkaitan pengadaan barang dan jasa. Bab VI Adol-atuku, berisi mengenai hukum perdagangan. Bab VII Gadai atau Sanda, berisi mengenai tata cara pengelolaan lembaga pegadaian. Bab VIII Utang-apihutang, berisi mengenai aturan pinjam-meminjam Bab IX Titipan, berisi mengenai sistem lumbung dan penyimpanan barang. Bab X Pasok Tukon, berisi mengenai hukum perhelatan. Bab XI Kawarangan, berisi mengenai hukum perkawinan. Bab XII Paradara, berisi mengenai hukum dan sanksi tindak asusila. Bab XIII Drewe kaliliran, berisi mengenai sistem pembagian warisan. Bab XIV Wakparusya, berisi mengenai sanksi penghinaan dan pencemaran nama baik. Bab XV Dendaparusya, berisi mengenai sanksi pelanggaran administrasi Bab XVI Kagelehan, berisi mengenai sanksi kelalaian yang menyebabkan kerugian publik. Bab XVII Atukaran, berisi mengenai sanksi karena menyebarkan permusuhan. Bab XVIII Bumi, berisi mengenai tata cara pungutan pajak Bab XX Dwilatek, berisi mengenai sanksi karena melakukan kebohongan publik. 4. Kehidupan Sosial Budaya Sumber gambar Kehidupan masyarakat Kerajaan Kediri bisa dibilang sangat teratur saat itu. Dalam kesehariannya, mereka sudah terbiasa memakai kain hingga di bawah lutut serta rambut yang diurai. Kondisi rumah pun dijaga sebisa mungkin untuk tetap rapi dan bersih. Dalam hal perkawinan, mempelai perempuan mendapatkan mas kawin berbentuk emas. Saat sakit pun, orang akan berdo’a mengharap untuk disembuhkan oleh Buddha dan dewa. Seperti yang tertera dalam Kitab Lubdaka, perhatian raja terhadap rakyatnya cukup tinggi. Derajat seseorang pun diukur dari tingkah laku dan moralnya dalam keseharian, bukan pada harta dan pangkatnya. Mereka juga diberi kebebasan untuk beraktifitas apapun selama mereka suka dan tidak melanggar peraturan dan norma-norma kerajaan. Istimewanya, karya sastra yang lahir di era Kerajaan Kediri ini perkembangannya cukup pesat. Jumlahnya saja sudah tak terhitung berapa banyaknya, dengan beragai tema yang diangkat. Misalnya saja, Mpu Sedah diperintahkan untuk mengalih-bahasakan Kitab Bharatayuda menjadi Bahasa Jawa kuno. Sayangnya perintah ini tidak rampung dikerjakan, karena Mpu Sedah sudah meninggal. Pekerjaan ini kemudian dilanjutkan oleh Mpu Panuluh hingga tugas penerjemahan ini selesei. Dalam Kitab Bharatayuda ini, nama Raja Jayabaya banyak disebutkan sebagai bentuk penghormatan. Selain itu, Mpu Panuluh juga menulis kitab sastra lainnya yang diberi judul Hariwangsa dan Gatotkacasraya. Kegemilangan budaya sastra ini berlnjut hingga kekuasaan Raja Kameswara. Di antara karya sastra yang lahir di eranya adalah Kitab Wertasancaya ditulis oleh Mpu Tan Akung, mengulas tata cara besyair dengan benar. Kitab Smaradhahana digunah oleh Mpu Dharmaja, yang isinya berupa sanjungan untuk raja. Dalam kitab ini pula, diceritakan bahwa ibu kota kerajaan terletak di Dahana. Disebutkan juga jika raja adalah titisan Dewa Kama Kitab Lubdaka ditulis oleh Mpu Tan Akung, isinya mengisahkan Lubdaka, yang seharusnya dijebloskan ke neraka. Tapi karena luar biasanya pemujaan sang pemburu ini, rohnya pun diangkat ke surga oleh dewa. Tak hanya itu, karya sastra lain yang juga lahir di zaman Kerajaan Kediri adalah Kitab Kresnayana ditulis oleh Mpu Triguna, berisi cerita tentang anak nakal bernama Kresna, tapi tetap disayangi karena sifatnya yang suka menolong setiap orang dan sakti mandraguna. Pada akhirnya, Kresna menjalin hubungan pernikahan dengan Dewi Rukmini. Kitab Samanasantaka isinya mengisahkan Bidadari Harini, yang ditulis oleh Mpu Managuna. Bukan hanya pada lembar-lembar kitab, budaya sastra yag hidup pada zaman Kerajaan Kediri ini juga bisa dijumpai pada relief candi. Seperti relief Candi Jago yang bercerita tentang Krenayana, sekalian juga dengan relief Kunjarakarna dan Parthayajna. Masa Kejayaan Sumber gambar Puncak keemasan Kerajaan Kediri, terjadi saat Raja Jayabaya berkuasa. Pada era kepemimpinannya, kekuasaan Kerajaan Kediri meluas sampai hampir ke seluruh penjuru Pulau Jawa. Pengaruh Kerajaan Kediri juga sampai ke Sumatra, yang saat itu sedang di bawah kendali Kerajaan Sriwijaya. Di tangannya pula, Kerajaan Jenggala berhasil ditaklukkan dan disatukan dengan Kerajaan Panjalu jadi Kerajaan Kediri. Sejarah kemenangan ini bisa ditemui pada Prasasti Ngatan 1135 Masehi. Fase kegemilangan ini makin diperkuat dengan catatan Chou Ku-fei di tahun 1178 Masehi, seorang kronik Cina, yang menyebutkan Kerajaan Kediri yang kaya raya dan sejahtera di bawah kepemimpinan Raja Jayabaya. Dengan kewibawaannya, ia berhasil membawa Kerajaan Kediri dalam puncak kejayaan, dengan kondisi kehidupan masyarakat yang aman dan sejahtera. Cita-cita negara pun terwujud, dengan menjadi negara yang Gedhe Obore, Padhang Jagade, Dhuwur Kukuse, Adoh Kuncarane, Ampuh Kawibawane. Tak ayal, rakyat pun merasakan kenikmatan luar biasa dengan keadaan negara yang gemah ripah loh jinawi, tata tentrem karta raharja yang artinya negara penuh dengan kekayaan alam melimpah, dan kehidupan aman dan sejahtera. Prabu Jayabaya memiliki konsep kepemimpinan Saptawa pada masa itu, yakni wisma papan, wastra sandang, wareg pangan, waras kesehatan, wasis [endidikan, wocaksana kebijaksanaan, dan waskita kerohanian. Selain soal kekuasaan dan kesejahteraan, Kerajaan Kediri pun cukup disanjung karena memiliki budaya satra yang kuat. Penyebab Keruntuhan Sumber gambar Kemunduran Kerajaan Kediri mulai dialami pada saat Raja Kertajaya memerintah. Pada tahun 1222 Masehi, terjadi perselisihan antara Prabu Kertajaya dan kaum brahmana. Saat itu, hak-hak para brahmana mulai dicabut, sehingga menyebabkan keberadaan para brahmana ini sudah tak aman lagi di kerajaan. Lalu, mereka melarikan diri ke Tumapel dan meminta bantuan Ken Arok. Mengetahui hal ini, Kertajaya segera mengutus bala tentara untuk menyerbu Tumapel. Sementara, di lain pihak, Tumapel mendapat dukungan penuh dari para brahmana untuk menyerang balik Kerajaan Kediri. Akhirnya, kedua pasukan berperang di dekat Genter, Malang dan peperangan dimenangkan pihak Tumapel. Sayangnya, saat itu Prabu Kertajaya berhasil lari meloloskan diri. Begitulah akhir riwayat Kerajaan Kediri yang jatuh dalam genggaman Kerajaan Tumapel. Mulai saat itu, berdirilah Kerajaan Singasari bersama Ken Arok sebagai pendirinya sekaligus raja pertamanya. Bukti Sejarah Sumber gambar Bukti keberadaan Kerajaan Kediri cukup banyak ditemukan. Setidaknya ada 16 sumber sejarah, mulai dari candi, prasasti, dan arca yang bisa dipakai sebagai rujukan dalam mendalami sejarah Kerajaan Kediri. Berikut adalah ulasan lengkap nya. 1. Candi Tondowongso Situs sejarah di Desa Gayam, Gurah, Kediri ini tergolong dalam penemuan baru, karena keberadaannya baru diketahui pada tahun 2007 silam. Kawasan candi seluas 1 hektar ini diperkirakan dibuat pada abad ke-9 Masehi dan menjadi penemuan terbesar dalam 30 tahun terakhir perihal peninggalan kerajaan Indonesia. Penemuan ini dipercaya menjadi bukti sejarah keberadaan Kerajaan Kediri pada masa awal abad ke-11. Pada fase itu, terjadi perpindahan ibu kota kerajaan, dari wilayah Jawa Tengah, beralih ke kawasan Jawa Timur. Hal ini bisa diketahui berdasarkan identifikasi bentuk arca dan tatanan lengkapnya. 2. Candi Panataran Candi yang juga dinamakan Candi Palah ini, lokasinya ada di Lereng Gunung Kelud, Blitar. Area yang dibangun pada abad ke 12-14 Mashei ini, dulunya dipakai untuk melakukan pemujaan kepada dewa supaya dihindarkan dari bahaya letusan Gunung Kelud. 3. Candi Gurah Candi ini ditemukan tahun 1957 di Desa Gurah, Kediri dan hanya berjarak 2 km dari Candi Tondowongso. Karena itulah, ada dugaan kalau kedua candi ini sebenarnya terletak dalam satu komplek. 4. Candi Mirigambar Candi Mirigambar lokasinya ada di Desa Mirigambar, Sumbergompol, yang dibuat antara tahun 1214-1310 Saka Seperti candi Jawa pada umumnya, candi ini juga disusun dengan dari batu bata merah. 5. Candi Tuban Candi ini terletak sekitar 500 meter saja dari lokasi Candi Mirigambar. Sayangnya, kondisi candi Tuban sudah mengalami kerusakan dan tidak bisa dibangun lagi karena tertimbun tanah. Situs bersejarah ini ditemukan tahun 1967, tepat sekitar gelombang tragedi 1965 terjadi di Tulungagung. Saat itu, terjadi aksi penghancuran ikon-ikon budaya dan benda berhala, yang dikenal sebagai Aksi Ikonoklastik. Candi Mirigambar sendiri selamat dari aksi ini, sebab pejabat setempat tidak memperbolehkan area tersebut dihancurkan, selain juga karena tempatnya yang dikenal angker. Lalu, Candi Tuban lah yang menjadi target berikutnya, hingga menyisakan bagian kaki candi saja. Setelah dirusak, candi ini lalu dipendam dan bagian atasnya dijadikan kandang ternak bebek, ayam, dan kambing oleh warga setempat. Sebetulnya, jika warga mau menggali tanah tersebut sedalam 1 meter saja, diyakini pondasi candi masih bisa ditemukan dalam kondisi yang relatif utuh. 6. Prasasti Kamulan Prasasti yang terletak di Desa Kamulan, Trenggalek ini dibuat pada tahun 1194 Masehi, pada masa pemerintahan Raja Kertajaya. Situs bersejarah ini menceritakan adanya serangan kerajaan timur ke Kediri pada tanggal 31 Agustus 1194 Masehi. 7. Prasasti Galuggung Prasasti ini berada di Desa Rejotangan, Tulungagung dengan besar 160x80x75 centimeter. Sayangnya, kondis prasasti yang memakai aksara Jawa kuno ini sudah rusak dan beberapa tulisannya sudah lapuk termakan umur sehingga sulit dibaca. Secara keseluruhan, terdapat 20 baris tulisan yang ada dalam prasasti ini. Di sisi lain, juga ada tulisan 1123 C. 8. Prasasti Jaring Isinya menceritakan dikabulkannya permohonan warga Dukuh Jaring, yang tidak dikabulkan oleh raja sebelumnya. Prasasti ini dibuat di tahun 1181 Masehi. 9. Prasasti Panumbangan Prasasti ini dibuat pada tanggal 2 Agustus 1120 Masehi, pada masa pemerintahan Maharaja Bameswara. Isinya menceritakan keputusan raja yang membebaskan pajak untuk warga Panumbangan. 10. Prasasti Talan Prasasti ini ditemukan di Desa Gurit, Blitar Situs sejarah yang dibuat pada tahun 1136 Masehi ini bercerita tentang keputusan raja yang membebaskan pajak bagi warga Talun. 11. Prasasti Sirah Keting Isinya berupa tanda penghargaan bagi rakyatnya yang berjasa kepada Kerajaan Kediri. Prasasti ini dibuat pada masa kekuasaan Raja Jayawarsa. 12. Prasasti Kertosono Prasasti yang asalnya dari jaman Raja Kameshwara ini, isinya bercerita tentang problematika agama dan spiritual yang terjadi pada saat itu. 13 Prasasti Nganthang Prasasti ini menceritakan tentang keputusan raja dalam membebaskan pembayaran pajak bagi warga Nganthang. Hanya saja, atas permohonan warga, isi prasasti ini kemudian disalin ke atas lembaran daun lontar. 14. Prasasti Padelegan Prasasti ini bercerita tentang rakyat Padelegan yang setia kepada Raja Prabu Kameshwara. Kini, prasasti ini jadi koleksi Museum Panatara, Blitar. 15. Prasasti Ceker Karena warga Desa Ceker berjasa kepada kerajaan, sang raja menghadiahkan prasasti ini kepada mereka. 16. Arca Buddha Vajrasattva Diperkirakan, arca ini dibuat pada abad ke 10 atau 11 Masehi. Saat ini, Arca Buddha Vajrasattva menjadi bagian koleksi Museum fur Indische Kunst, Jerman. Peninggalan 1. Kitab Baratayudha Sumber gambar Kitab ini merupakan karya Mpu Sedah, yang kemudian dilanjutkan oleh Mpu Panuluh karena Mpu Sedah meninggal terlebih dahulu sebelum kitab ini rampung dikerjakan. Isinya menceritakan perjuangan Kerajaan Panjalu dalam pertempuran melawan Kerajaan Jenggala, yang akhirnya dimenangkan oleh Raja Jayabaya dari Panjalu. Alur cerita dalam kitab ini, memakai perumpamaan peperangan Pandawa dan Kurawa. 2. Kitab Sumarasantaka Sumber gambar Isinya bercerita tentang seorang bidadari bernama Harini, yang diusir dari kayangan akibat dosa yang ia perbuat. Kitab ini adalah karya Mpu Monaguna. 3. Kitab Gatotkacaryasa Sumber gambar Kitab ini menceritakan perjuangan Arjuna dalam membebaskan putraya bersama Siti Sudhari, yang bernama Abimanyu. 4. Kitab Smaradhana Sumber gambar Isinya berisi kisah suami istri yang secara misterius lenyap dari muka bumi akibat terkena api dari ata ketiga Dewa Siwa. Kitab ini disusun oleh Mpu Dharmaja. 5. Kitab Kresnayana Sumber gambar Isinya menceritakan seorang anak yang berhati lembut dan memiliki kesaktian aji mandraguna bernama Kresna. Kitab ini disusun oleh Mpu Triguna. 6. Kitab Hariwangsa Sumber gambar Kitab ini menceritakan sosok bernama Kresna, yang juga menjadi tokoh dalam Kitab Kresnayana. Pada kitab ini, Kresna diceritakan menculik Dewi Rukmini pada malam sebelum ia menikah dengan Prabu Bismaka. 7. Kitab Wertasancaya Sumber gambar Kitab ini berisi tata cara membuat syair dengan baik. Kitab ini adalah karya Mpu Tan Akung. 8. Kitab Lubdaka Sumber gambar Kitab ini juga disusun oleh Mpu Tan Akung. Isinya menceritakan seorang pemburu yang bernama Lubdaka, yang seharusnya masuk ke neraka. Tapi karena pemujannya yang sangat setia, akhirnya ia diangkat oleh dewa untuk masuk ke surga. Itu tadi sejarah lengkap Kerajaan Kediri yang ternyata punya berbagai kisah menarik di dalamnya. Nah, kalau kamu ada pertanyaan seputar Kerajaan Kediri atau kerajaan di Indonesia lainnya, bisa menuliskan comment di bawah. Jangan lupa like dan share artikel ini ya, supaya teman-temanmu banyak yang tahu bagaimana serunya sejarah Kerajaan Kediri ini.
- Halo sobat, pada postingan kali ini kita akan membahas tentang Kerajaan Kediri. Kerajaan yang dahulu terletak di Jawa Timur ini pernah dipimpin oleh Raja Jayabaya. Nama Jayabaya sendiri mahsyur dengan kerajaan menjadi dua, kerajaan yang dipimpin oleh Airlangga sudah memiliki nama Panjalu yang ada di Daha, sehingga Kerajaan Janggala terlahir dari pecahan Panjalu, sedangkan Kahuripan merupakan nama kota lama yang ditinggalkan Airlangga lalu menjadi ibu kota Janggala. Awalnya, nama Panjalu lebih sering digunakan dibandingkan dengan Kediri atau Kadiri yang terbukti dari beberapa prasasti raja-raja Kediri. Nama Panjalu sendiri dikenal dengan Pu Chia Lung pada kronik Cina yakni Ling wai tai ta tahun 1178. Kediri atau Kadiri berasal dari kata Khadri yaitu bahasa Sansekerta dengan arti pohon mengkudu atau pohon Awal Berdirinya Kerajaan Kediri Pada awal Sejarah Kerajaan Kediri atau Panjalu sebenarnya tidak terlalu diketahui dan pada prasasti Turun Hyang II tahun 1044 yang dibuat Kerajaan Janggala hanya menceritakan tentang perang saudara dari kedua kerajaan peninggalan Airlangga tersebut. Sejarah dari Kerajaan Panjalu baru mulai terkuak saat Prasasti Sirah keting tahun 1104 atas nama Sri Jayawarsa ditemukan. Dari beberapa raja sebelum Sri Jayawarsa hanya Sri Samarawijaya saja yang sudah diketahui, sementara untuk urutan raja sedudah Sri Jayawarsa diketahui secara jelas lewat beberapa prasasti yang akhirnya ditemukan. Kerajaan Panjalu yang berada di bawah pemerintahan Sri Jayabhaya bisa menaklukan Kerajaan Janggala dengan semboyan yang ada pada Prasasti Ngantang tahun 1135 yakni Panjalu Jayati, atau Panjalu Menang. Pada masa pemerintahan Sri Jayabhaya tersebut, Kerajaan Panjalu memperoleh masa kejayaan dan wilayah kerajaan tersebut adalah seluruh Jawa dan juga beberapa buah pulau Nusantara dan juga mengalahkan pengaruh dari Kerajaan Sriwijaya di Sumatra. Bukti ini semakin diperkuat dengan kronik Cina yang berjudul Ling wai tai ta dari Chou Ku fei pada tahun 1178. Dalam prasasti tersebut dijelaskan jika menjadi negeri paling kaya selain Cina secara berurutan merupakan Arab, Jawa dan juga Sumatra dan pada saat itu yang berkuasa di Arab adalah Bani Abbasiyah, sementara di daerah Jawa merupakan Kerajaan Panjalu dan di Sumatra adalah Kerajaan Sriwijaya. Chou Ju Kua melukiskan jika di Jawa menganut 2 agama yang berbeda yakni Buddha serta Hindu dengan penduduk Jawa yang sangat berani serta emosional dan waktu senggangnya dipakai untuk mengadu binatang, sedangkan untuk mata uang terbuat dari campuran perak serta tembaga. Dalam buku Chu fan chi disebutkan jika Jawa merupakan maharaja yang memiliki wilayah jajahan Pacitan [Pai hua yuan], Medang [Ma tung], Tumapel, Malang [Ta pen], Dieng [Hi ning], Hujung Galuh yang sekrang menjadi Surabaya [Jung ya lu], Jenggi, Papua Barat [Tung ki], Papua [Huang ma chu], Sumba [Ta kang], Sorong, Papua Barat [Kulun], Tanjungpura Borneo [jung wu lo], Banggal di Sulawesi [Pingya i], Timor [Ti wu] dan juga Maluku [Wu nu ku]. Situs Tondowongso yang ditemukan pada awal 2007 dipercaya sebagai peninggalan Kerajaan Kediri yang dianggap bisa membantu mendapatkan lebih banyak informasi tentang Kerajaan kediri. B. Perkembangan Politik Kerajaan Kediri Mapanji Garasakan memiliki lama pemerintahan yang sebentar lalu digantikan oleh Raja Mapanji Alanjung tahun 1052 sampai 1059 M lalu diganti kembali dengan Sri Maharaja Amarotsaha. Pertempuran dari Jenggala dan Panjalu masih berlangsung sampai 60 tahun dan tidak ada berita pasti tentang 2 kerajaan tersebut sampai akhirnya muncul Raja Bameswara tahun 1116 sampai 1136 M dari Kediri. Pada masa tersebut, ibu kota Panjalu sudah dipindahkan dari Daha menuju Kediri sehingga lebih terkenal dengan sebutan Kerajaan kediri. Raja Bameswara mengenakan lencana berbentuk tengkorak bertaring pada bagian atas bulan sabit yang biasa disebut dengan Candrakapala. Sesudah Bameswara tutun tahta kemudian dilanjutkan Jayabaya yang kemudian berhasil mengalahkan Jenggala. Pada sistem pemerintahan Kerajaan Kediri, mengalami beberapa kali pergantian kekuasaan dan terdapat beberapa raja yang berkuasa saat itu. Sri Jayawarsa Digjaya Shastraprabhu. Jayawarsa yang merupakan raja pertama kerajaan kediri pada prasasti berangka tahun 1104 dan dinamakan sebagai titisan Wisnu. Kameshwara adalah raja kedua Kerajaan Kediri yang memiliki gelar Sri Maharajake Sirikan Shri Kameshhwara Sakalabhuwanatushtikarana Sarwaniwaryyawiryya Parakrama Digjayottunggadewa atau lebih dikenal dengan Kameshwara I tahun 1115 sampai 1130. Prabu Sarwaswera yang merupakan raja taat beribadah sert budaya, ia memegang teguh pada prinsip tat wam asi yang memiliki arti, Dikaulah itu, , dikaulah semua itu, semua makhluk adalah engkau. Tujuan hidup manusia menurut prabu Sarwaswera yang terakhir adalah mooksa, yaitu pemanunggalan jiwatma dengan paramatma. Jalan yang benar adalah sesuatu yang menuju kearah kesatuan, segala sesuatu yang menghalangi kesatuan adalah tidak benar.” Prabu Kroncharyadipa merupakan nama dengan arti benteng kebenaran, Prabu memang sangat adik terhadap masyarakat dan juga pemeluk agama yang taat dalam mengendalikan diri saat pemerintahannya yang selalu memegang prinsip sad kama murka, yakni enam macam musuh dalam diri manusia. Keenam itu adalah kroda marah, moha kebingungan, kama hawa nafsu,loba rakus,mada mabuk, masarya iri hati. Raja Raja Kerajaan Kediri Berikut ini adalah daftar nama dari raja raja yang pernah memerintah di Daha, ibu kota dari Kediri 1. Airlangga [Daha Masih Ibu Kota Utuh] Pendiri dari Kota Daha yang merupakan pindahan Kota Kahuripan dan saat turun tahta tahun 1042, kerajaan dibagi menjadi 2 dan Daha menjadi ibu kota Kerajaan wilayah Barat yakni Panjalu. Menurut Nagarakretagama, kerajaan yang dipimpin Airlangga sebelum dibagi menjadi dua memiliki nama Panjalu. 2. Sri Samarawijaya [Daha Menjadi Ibu Kota Panjalu] Sri Samarawijaya adalah salah satu putra Airlangga yang namanya ditemukan pada Prasasti Pamwatan tahun 1042. 3. Sri Jayawarsa Berdasarkan Prasasti Sirah Keting tahun 1104, namun tidak diketahui apa merupakan pengganti Sri Samarawijaya atau tidak. Dalam masa pemerintahannya, Jayawarsa memberikan hadiah untuk rakyat desa sebagai wujud penghargaan sebab rakyat sudah berjasa pada raja. Dalam prasasti tersebut terlihat jika Raja Jayawarsa memiliki perhatian besar pada rakyat dan ingin membuat rakyatnya sejahtera. 4. Sri Bameswara Berdasarkan Prasasti Padelegan I tahun 1117, Prasasti Panumbangan tahun 1120 dan juga Prasasti Tangkilan tahun 1130. Prasasti tersebut lebih membahas tentang masalah seputar keagamaan. 5. Sri Jayabhaya Raja terbesar Kerajaan Panjalu dari prasasti Ngantang tahun 1135, Prasasti Talan tahun 1136 serta Kakawin Bharatayuddha tahun 1157. Kerajaan Kediri mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Prabu Jayabhaya dan strateginya untuk membuat masyarakat makmur memang mengagumkan. Kerajaan yang beribu kota di Dahono Puro, di bawah kaki Gunung Kelud tersebut memiliki tanah yang subur sehingga berbagai tanaman bisa tumbuh dengan baik. Hasil pertanian serta perkebunan sangat berlimpah dan dibagian tengah kota membelah aliran Sungai Brantas yang sangat jernih dan menjadi tempat hidup banyak jenis ikan, sehingga makanan sumber protein bisa tercukupi. Dukungan spiritual dan juga material yang diberikan Prabu Jayabhaya juga banyak serta sifat merakyat dan tujuan yang jauh ke depan membuat Prabu Jayabhaya dikenal sepanjang masa. 6. Sri Aryeswara Berdasarkan Prasasti Angin tahun 1171. Sri Aryeswara adalah raja Kediri yang mempinpin pemerintahan sekitar tahun 1171 dan nama gelar abhiseknya adalah Sri Maharaja Rake Hino Sri Aryeswara Madhusudanawatara Arijamuka. Namun, tidak diketahui dengan pasti waktu Sri Aryeswara naik tahta dan peninggalan sejarahnya yakni prasasti Angin tanggal 23 Maret 1171. Lambang Kerajaan Kediri pada masa tersebut adalah Ganesha dan Sri Aryeswara juga tidak diketahui kapan masa pemerintahannya Sri Ganda Berdasarjan Prasasti Jaring tahun 1181. Pemakaian nama hewan pada pangkat seperti nama gajah, tikus dan kerbau dimana nama-nama itu memperlihatkan tinggi atau rendahnya pangkat orang dalam istana. 8. Sri Sarwaswera Bisa dilihat dari prasasti Padelegan II tahun 1159 serta Prasasti Kahyunan tahun 1161. Sri Sarwswera merupakan raja yang taat dalam beragama serta berbudaya dan memegang teguh prinsip “tat wam asi”, yang berarti “dikaulah itu, dikaulah semua itu, semua makhluk adalah engkau”. Prabu Sri Sarwaswera berpendapat jika tujuan hidup akhir manusia merupakan moksa yakni pemanunggalan jiwatma dengan paramatma dan jalan kebenaran merupakan suatu jalan untuk kesatuan sehingga yang menghalangi kesatuan adalah hal tidak baik. 9. Sri Kameswara Berdasarkan Prasasti Ceker tahun 1182 serta Kakawin Smaradahana. Pada masa pemerintahannya dari tahun 1182 sampai dengan 1185 Masehi, terjadi perkembangan pesat dalam sastra seperti Mpu Dharmaja yang membuat Kitab Smaradhana dan juga dikenal dengan beberapa cerita Panji seperti cerita Panji Sri Kertajaya Berdasarkan Prasasti Galunggung tahun 1194, Prasasti Kamulan tahun 1194, Prasasti Palah tahun 1197, Prasasti Wates Kulon tahun 1205, Negarakretagama serta Pararaton. Raja Kertajaya dikenal dengan nama Dandang Gendis dan pada masa pemerintahannya, Kerajaan mulai mengalami penurunan yang disebabkan karena Kertajaya mengurangi hak dari kaum Brahmana. Keadaan tersebut lalu ditentang kaum Brahmana dan kedudukan mereka semakin tidak aman lalu banyak dari mereka yang lari dan minta pertolongan pada Tumapel yang pada saat itu diperintah Ken Arok. Raja Kertajaya lalu menyiapkan pasukan untuk menyerang Tumapel, sedangkan Ken Arok memberikan dukungan untuk kaum Brahmana dalam melakukan serangan ke Kerajaan kediri dan kedua pasukan tersebut bertemu di dekat Ganter tahun 1222 Masehi. Berikut ini adalah nama raja-raja saat Daha ada di bawah Singasari, kerajaan Panjalu runtuh pada tahun 1222 kemudian menjadi bawahan Singasari dan nama raja-raja tersebut diketahui dari Prasasti Mula Malurung. 1. Mahisa Wunga Telang Putra dari Ken Arok 2. Guningbhaya Adik Mahisa Wunga Teleng 3. Tohjaya Kakak dari Guningbhaya 4. Kertanagara Cucu Mahisa Wunga Teleng [pihak ibu] dan menjadi raja Singasari 5. Jayakatwang Keturunan Kertajaya yang merupakan Bupati Gelang Gelang dimana pada tahun 1292 melakukan pemberontakan sehingga runtuh Kerajaan Singasari dan ia membangun Kerajaan Kediri namun tahun 1293 dikalahkan Raden Wijaya pendiri Kehidupan Perekonomian Kerajaan Kediri Kehidupan perekonomian pada masa Kerajaan Kediri memiliki usaha perdagangan, pertanian serta peternakan dan dikenal sebagai penghasil kapas, beras serta ulat sutra. Ini menyebabkan kehidupan ekonomi Kerajaan Kediri terbilang makmur dan bisa terlihat dari Kerajaan yang memberikan penghasilan tetap untuk pegawai berupa hasil bumi dan ini juga didapat dari keterangan Kitab Chi Fan Chi serta Kitab Ling Wai Tai Ta. D. Kehidupan Sosial Masyarakat Kerajaan kediri Kehidupan pada masa Kerajaan Kediri sangat baik dan juga sejahtera sehingga rakyat bisa hidup dengan tenang. Ini bisa terlihat dari rumah rakyat yang baik, rapi, bersih dan juga dilengkapi lantai ubin berwarna hijau dan kuning. Sedangkan penduduknya menggunakan kain sampai bawah lutut. Kehidupan masyarakat Kerajaan Kedirisangat damai dan tenang, sehingga seni kesusastraan berkembang lebih maju adalah seni sastra dan bisa dilihat dari begitu banyak sastra sampai sekarang. Beberapa sastra tersebut sudah diulas diatas dan masih banyak lagi kitab sastra lainnya seperti Kitab Lubdaka serta Wertasancaya dari Mpu Tan Akung, Kitan Kresnayana dari Mpu Triguna serta Kitab Sumanasantaka dari Mpu Monaguna dan sebagainya. Golongan Masyarakat Kerajaan KediriMasyarakat pada masa Kerajaan Kediri dibagi menjadi 3 kedudukan yakni 1. Golongan masyarakat pusat [kerajaan] Masyarakat yang ada dalam lingkungan raja serta beberapa kerabat dalam kelompok pelayan. 2. Golongan masyarakat thani [daerah] Golongan masyarakat yang terdiri dari petugas pemerintahan atau pejabat pada wilayah thani atau daerah. 3. Golongan masyarakat non pemerintah Golongan masyarakat yang tidak memiliki kedudukan serta hubungan dengan pemerintah atau masyarakat wiraswasta. Kerajaan Kediri juga mempunyai lebih dari 300 pejabat yang bertugas mengurus serta mencatat segala sesuatu penghasilan kerajaan. Selain itu juga ada 1000 pegawai rendahan yang memiliki tugas untuk mengurus benteng, parit kota, perbendaharaan Kerajaan serta gedung tempat persediaan makanan. Kerajaan Kediri sendiri terlahir dari pembagian Kerajaan Mataram yang dilakukan Raja Airlangga tahun 1000 sampai 1049 dan ini dilakukan supaya tidak terjadi perselisihan dari anak-anak selirnya. E. Karya Sastra Kerajaan Kediri Pada masa Sejarah Kerajaan Kediri, seni sastra lebih sering digunakan dan pada tahun 1157, Kakawin Bharatayuddha ditulis Mpu Sedah yang kemudian dilselesaikan oleh Mpu Panuluh. kitab ini memiliki sumber dari Mahabharata dengan isi kemenangan Pandawa atas Korawa yang dipakai sebagai khiasan kemenangan Sri Jayabhaya atas Janggala. Mpu Panuluh juga menulis Kalawin Hariwangsa serta Ghatotkachasraya dan ada juga pujangga pada jama pemerintahan Sri Kameswara yakni Mpu Dharmaja yang menulis Kakawin Smaradahana lalu di jaman pemerintahan Kertajaya juga ada seorang pujangga lagi yakni Mpu Monaguna yang menulis Sumanasantaka serta Mpu Triguna yang menulis Kresnayana.
100% found this document useful 3 votes11K views5 pagesDescriptionSISTEM PEMERINTAHAN KEDIRICopyright© © All Rights ReservedAvailable FormatsDOCX, PDF, TXT or read online from ScribdShare this documentDid you find this document useful?100% found this document useful 3 votes11K views5 pagesSistem Pemerintahan Kerajaan KediriJump to Page You are on page 1of 5 You're Reading a Free Preview Page 4 is not shown in this preview. Reward Your CuriosityEverything you want to Anywhere. Any Commitment. Cancel anytime.
sistem politik kerajaan kediri