MenurutProf. M. Ramlan, frasa adalah satuan gramatik yang terdiri atas satu kata atau lebih dan tidak melampaui batas fungsi (Ramlan, 2001:139). Jadi, dengan kata lain frasa merupakan gabungan dua kata atau lebih yang tidak melebihi satu batas fungsi. Fungsi tersebut merupakan jabatan berupa subjek, predikat, objek, pelengkap dan keterangan.
komponenkomponennya yang terdiri dari kalimat. Kalimat dalam setiap bahasa dapat disegmentasikan ke dalam satuan yang berupa kata (Sutedi, 2003:3). Kata dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) adalah unsur bahasa yang diucapkan atau dituliskan yang merupakan perwujudan suatu perasaan dan pikiran yang dapat dipakai dalam berbahasa.
Relaksimakna adalah hubungan semantik yang terdapat antara satu bahasa yang satu dengan satuan bahasa lainnya ( Chaer dalam Novita Amrah, 2016:27). 28 Universitas Sumatera Utara Hubungan kemaknaan atau relasi semantik ini menyangkut hal kesamaan makna yaitu: a. Kesamaan makna (sinonim) adalah hubungan semantik yang menyatakan
Kalimatadalah satuan bahasa terkecil dalam wujud lisan atau. Question from @Gusticya - Sekolah Menengah Pertama - B. indonesia
Vay Tiền Nhanh Chỉ Cần Cmnd. Pengertian Wacana Wacana adalah satuan bahasa yang lengkap, sehingga dalam hierarki gramatikal merupakan satuan gramatikal tertinggi dan terbesar. Sebagai satuan bahasa yang lengkap, maka dalam wacana itu berarti terdapat konsep, gagasan, pikiran, atau ide yang utuh, yang bisa dipahami oleh pembaca dalam wacana tulis atau pendengar dalam wacana lisan tanpa keraguan apapun. Sebagai satuan gramatikal tertinggi atau terbesar, wacana dibentuk dari kalimat-kalimat yang memenuhi persyaratan gramatikal, dan persyaratan kewacanaan lainnya. Persyaratan gramatikal dapat dipenuhi kalau dalam wacana itu sudah terbina kekohesifan, yaitu adanya keserasian hubungan antara unsur-unsur yang ada dalam wacana sehingga isi wacana apik dan benar. Istilah wacana mempunyai acuan yang lebih luas dari sekedar bacaan. Wacana merupakan satuan bahasa yang paling besar di gunakan dalam komunikasi. Satuan bahasa di bawahnya secara berturut-turut adalah kalimat, frase, kata dan bunyi. Secara berurutan, rangkaian bunyi merupakan bentuk kata. Rangkaian kata membentuk frase dan rangkaian frase membentuk kalimat. Akhirnya, rangkaian kalimat membentuk wacana. Wacana Menurut Para Ahli Menurut James Deese, Wacana merupakan seperangkat proposisi yang saling berhubungan satu sama lain untuk menghasilkan rasa yang kepaduan atau rasa kohesi untuk si penyimak atau pembaca. Kepaduan dan kohesi akan muncul dari isi wacana. Menurut Harimurti Kridalaksana wacana discourse adalah satuan bahasa terlengkap dan merupakan satuan gramatikal tertinggi atau terbesar dalam hierarki gramatikal. 1983179 dalam Sumarlam, 20095. Menurut Henry Guntur Tarigan 198727 mengemukakan bahawa wacana adalah satuan bahasa yang paling lengkap, lebih tinggi dari klausa dan kalimat, memiliki kohesi dan koherensi yang baik, mempunyai awal dan akhir yang jelas, berkesinambungan, dan dapat disampaikan secara lisan atau tertulis. Menurut James Deese Dalam karyanya Thought into Speech the Psychology of a Language 198472, sebagaimana dikutip ulang oleh Sumarlam, 20096 menyatakan bahawa wacana adalah seperangkat proposisi yang saling berhubungan untuk menghasilkan suatu rasa kepaduan atau rasa kohesi bagi penyimak atau pembaca. Kohesi atau kepaduan itu sendiri harus muncul dari isi wacana, tetapi banyak sekali rasa kepaduan yang dirasakan oleh penyimak atau pembaca harus muncul dari cara pengutaraan, iaitu pengutaraan wacana itu. Menurut Fatimah Djajasudarma 19941 mengemukakan bahawa wacana adalah rentetan kalimat yang berkaitan, menghubungkan proposisi yang satu dengan proposisi yang lain, membentuk satu kesatuan, proposisi sebagai isi konsep yang masih kasar yang akan melahirkan pernyataan statement dalam bentuk kalimat atau wacana. Menurut Hasan Alwi, dkk 200041 menjelaskan pengertian wacana sebagai rentetan kalimat yang berkaitan sehingga terbentuklah makna yang serasi di antara kalimat-kalimat itu. Dengan demikian sebuah rentetan kalimat tidak dapat disebut wacana jika tidak ada keserasian makna. Sebaliknya, rentetan kalimat membentuk wacana karena dari rentetan tersebut terbentuk makna yang serasi. Menurut Oka dan Suparno 199431 menyebutkan wacana adalah satuan bahasa yang membawa amanat yang lengkap. Menurut Sumarlam, dkk 200915 menyimpulkan dari beberapa pendapat bahawa wacana adalah satuan bahasa terlengkap yang dinyatakan secara lisan seperti pidato, ceramah, khotbah, dan dialog, atau secara tertulis seperti cerpen, novel, buku, surat, dan dokumen tertulis, yang dilihat dari struktur lahirnya dari segi bentuk bersifat kohesif, saling terkait dan dari struktur batinnya dari segi makna bersifat koheren, terpadu. Jenis dan Macam Wacana Dalam perbagai kepustakaan ada di sebut berbagai jenis wacana sesuai sdengan sudut pandang dari mana wacana itu di lihat. Begitulah, pertama-tama di lihat adanya wacana lisan dan wacana tulis berkenaan dengan sarananya, yaitu bahasa lisan atau bahasa tulis. Kemudian ada pembagian wacana prosa dan wacana puisi di lihat dari kegunaan bahasa apakah dalam bentuk uraian ataukah bentuk puistik. Selanjutnya, wacana prosa ini di lihat dari penyampaian isinya di bedakan lagi menjadi wacana narasi, narasi eksposisi, wacana persuasi dan wacana argumentasi. Wacana narasi bersifat menceritakan suatu topic atau hal ; wacana eksposisi bersifat memaparkan topic atau watak; wacana persuasi bersifat mengajak, menganjurkan atau melarang; dan wacana argumentasi bersifat member argument atau alasan terhadap suatu hal. Masih terbuka adanya jenis wacana lain mengingat penggunakan bahasa sangat luas, yang mencakup berbagai segi kehidupan manusia. Syarat Terbentuknya Wacana Adapun persyaratan gramatikal dalam wacana dapat di penuhi atau dalam wacana itu sudah terbina yang di sebut adanya keserasian hubungan antara unsur-unsur yang ada dalam wacana tersebut. Bila wacana itu kohesif , akan terciptalah kekoherensian yaitu isi wacana yang apik dan benar. Kekohesifan itu dicapai dengan cara pengacuan dengan menggunakan kata ganti –nya mari kita lihat! Kalimat 1 adalah kalimat bebas, kalimat utama yang berisi pernyataan, bahwa sekarang di Riau amat sukar mencari terubuk. Kalimat 2 adalah kalimat 3terikat, yang di kaitkan dengan kalimat 1 dengan menggunakan kata gantinya-nya pada kata ikannya dan telurnya yang jelas mencakup pada terubuk pada kalimat 1. Kalimat 3 juga di kaitkan dengan kalimat 1 dan kalimat 2 dengan menggunakan kata ganti -nya pada kata harga-nya yang juga jelas mencakup pada kata terbuk pada kalimat 1. Lalu, kalimat 4 merupakan kesimpulan terhadap pernyataan pada kalimat 1, 2 dan 3, yang di kaitkan dengan bantuan konjungsi antar kalimat makanya. Kekohesifan wacana itu di lakukan dengan mengulang kata pembaharu pada kalimat 1 dengan kata pembaharuan pada kalimat 2; serta mengulang frase perubahan jiwa pada kalimat 2 perubahan pada kalimat 3. Adanya pengulangan unsure yang sama itu menyebabkan wacana itu menjadi kekoherens dan apik. Namun, pengulangan-pengulangan seperti di atas yang tampak kohesif, belum tentu menjamin terciptanya kekoherensian. Jadi syarat terbentuknya wacana apabila adanya kohesif dan koherensi. Alat-alat gramatikal yang dapat digunakan untuk membuat sebuah wacana menjadi kohesif, antara lain adalah 1. Konjungsi, yakni alat untuk menghubung-hubungkan bagian-bagian kalimat; atau menghubungkan paragraf dengan paragraph. Dengan penggunaan konjungsi ini, hubungan itu menjadi lebih eksplisit, dan akan menjadi lebih jelas bila dibandingkan dengan hubungan yang tanpa konjungsi. Contohnya Raja sakit. Permaisuri meninggal. Pada contoh diatas, hubunngan antara kalimat pertama dengan kalimat kedua itu tidak jelas apakah hubungan penambahan, apakah hubungan sebab dan akibat, atau hubungan kewaktuan. Hubungan menjadi jelas, misalnya diberi konjungsi, dan menjadi kalimat sebagai berikut Raja sakit dan pernaisuri meninggal. Raja sakit karena permaisuri meninggal. Raja sakit ketika permaisuri meninggal. Raja sakit sebelum permaisuri meninggal Raja sakit. Oleh karena itu, permaisuri meninggal. Raja sakit, sedangkan permaisuri meninggal. 2. Menggunakan kata ganti dia, nya, mereka, ini, dan itu sebagai rujukan anaforis. Dengan menggunakan kata ganti sebagai rujukan anaforis, maka bagian kalimat yang sama tidak perlu di ulang, melainkan dig anti dengan kata ganti itu. Maka oleh karena itu juga, kalimat-kalimat tersebut saling berhubungan. 3. Menggunakan ellipsis, yaitu penghilangan bagian kalimat yang sama yang terdapat kalimat yang lain. Dengan ellipsis, karena tidak di ulangnya bagian yang sama, maka wacana itu tampak menjadi lebih efektif, dan penghilangan itu sendiri menjadi alat penghubung kalimat di dalam wacana itu. Selain dengan upaya gramatikal, sebuah wacana yang kohesif dan koherens dapat juga di buat dengan bantuan berbagai aspek semantik. Caranya, antara lain Menggunakan hubungan pertentangan pada kedua bagian kalimat yang terdapat dalam wacana. Misalnya a. Kemarin hujan turun lebat sekali. Hari ini cerahnya bukan main. b. Saya datang anda pergi. Saya hadir, anda absen. Maka, mana mungkin kita bisa bicara. Menggunakan hubungan generik-spesifik; atau sebaliknya spesifik-generik. Misalnya a. Pemerintah berusaha menyediakan kendaraan umum sebanyak-banyaknya dan akan berupaya mengurangi mobil-mobil pribadi. b. Kuda itu jangan kau pacu terus. Binatang juga perlu beristirahat. Menggunakan hubungan perbandingan antara isi kedua bagian kalimat; atau isi antara dua buah kalimat dalam satu wacana. Misalnya a. Dengan cepat di sambarnya tas wanita pejalan kaki itu. Bagai elang menyambar anak ayam. b. Lahap benar makanannya. Seperti orang yang sudah satu minggu tidak ketemu nasi. Menggunakan hubungan sebab-akibat di antara isi kedua bagian kalimat; atai isi antara dua buah kalimat dalam satu wacana. Misalnya a. Dia malas, dan sering kali bolos sekolah. Wajarlah kalau tidak naik kelas. b. Pada pagi hari bus selalu penuh sesak. Bernafas pun susah di dalam bus itu. Menggunakan hubungan tujuan di dalam isi sebuah wacana. Misalnya a. Semua anaknya di sekolahkan. Agar kelak tidak seperti dirinya. b. Banyak jembatan layang di bangun di Jakarta. Supaya kemacetan lalu lintas teratasi. Menggunakan hubungan rujukan yang sama pada dua bagian kalimat atau pada dua kalimat dalam satu wacana. Misalnya a. Becak sudah tidak ada lagi di Jakarta. Kendaraan roda tiga itu sering di tuduh memacetkan lalu lintas. b. Kebakaran sering melanda Jakarta. Kalau dia datang si jago merah itu tidak kenal waktu, siang ataupun malam. Ciri-ciri wacana Dalam wacana perlu ada unsur-unsur susun atur menurut sabab, akibat, tempat, waktu, keutaamaan dan sebagainya. Wacana harus mempunyai andaian dan inferensi. Maklumat pertama dalam wacana di gelar andaian manakala maklumat berikutnya disebut inferensi. Setiap kata dalam wacana harus ada maklumat baru yang ada dalam kata sebelumnya. Bentuk-bentuk Wacana Berikut adalah 5 jenis wacana antara lain Narasi Narasi merupakan sebuah rangkaian cerita yang didasarkan pada urutan suatu peristiwa atau kejadian. Narasi berbentuk narasi imajinatif seseorang dan narasi ekspositaris. Unsur-unsur dari narasi adalah tokoh, alur, kejadian, konflik, dan latar serta waktu, suasana dan tempat. Eksposisi Eksposisi merupakan sebuah karangan yang menjelaskan dan menerangkan karangan dengan terperinci yang tujuan agar memberikan sebuah informasi atau dapat memperluas ilmu dan pengetahuan bagi pembaca. Karangan eksposisi digunakan untuk karya ilmiah seperti untuk seminar, simposium , makalah-makalah, artikel ilmiah, atau penataran. Argumentasi Argumentasi merupakan karangan yang berisikan pendapat seorang atau ahli, sikap, maupun penilaian terhadap sesuatu disertai dengan bukti, alasan dan peryataan yang dapat diterima secara logis. Argumentasi bertujuan untuk menyakinkan bahwa itu benar atau salah. Deskripsi Deskripsi merupakan karangan yang menggambarkan sesuatu objek berdasarkan hasil dari pengamatan, perasaan, dan pengalaman dari penulis. Contoh Wacana Pendek Terima kasih ! Sedah Mematikan Air Kran. Contoh Wacana Panjang Dijual. Sangat butuh uang tunai segera. Sebuah Ruko, luas tanah 20 x 20 m persegi dan luas. Tidak melalui perantara. Minat hubungi 0821 6765 6765. Keutuhan dalam Wacana Kohesi Kohesi merupkan hubungan antar kalimat dan paragraf, yang dapat menyebabkan kalimat dan paragraf tersebut menjadi satu kesatuan yang padu, sehingga menjadi sebuah wacana yang utuh. Wacana di atas menggunakan pola hubungan konjungsi, konjungsi merupakan kata hubung. Koherensi Koherensi merupakan keterkaitan antara kalimat yang sistematis. Keterkaitan tersebut yang mengakibatkan kamlimat menjadi terpadu. Daftar Pustaka Chaer, Abdul. 1994. Linguistik Umum. Jakarta PT Rineka Cipta
Pengertian Kalimat Luas Beserta Contohnya – Ada berbagai jenis kalimat dalam Bahasa Indonesia, mulai dari kalimat inti, kalimat majemuk, kalimat perintah, kalimat tanya, kalimat ajakan, dll. Pada artikel sebelumnya telah dijelaskan mengenai kalimat sederhana. Oleh karena itu, pembahasan pada artikel kali ini akan fokus pada penjelasan mengenai kalimat luas, mulai dari pengertian, jenis, dan juga contohnya. Selamat menyimak! Pengertian Kalimat Luas Kalimat sederhana yang mengalami perluasan disebut dengan kalimat luas. Kalimat luas tentunya akan mempunyai perbendaharaan kata yang lebih banyak jika dibandingkan dengan kalimat sederhana. Jika kalimat sederhana hanya memiliki paling banyak satu klausa, maka kalimat luas minimal memiliki dua klausa. Ciri khas lain dalam kalimat luas adalah adanya penggunaan kata penghubung seperti dan, tetapi, kemudian, ketika, sedangkan, dll. Jenis Jenis Kalimat Luas Kalimat luas terbagi menjadi kalimat luas setara dan kalimat luas tak setara. Berikut penjelasan dari masing-masing jenisnya. 1. Kalimat Luas Setara Kalimat luas setara terdiri dari minimal 2 buah klausa dimana kedua klausa tersebut berkedudukan setara atau masing-masing berdiri sendiri. Setiap klausa ini selanjutnya merupakan klausa inti yang membentuk kalimat luas. Kedudukan setiap klausa sama derajatnya, dengan kata lain tidak ada klausa yang yang berkedudukan lebih tinggi atau lebih rendah dari klausa yang lain. Sesuai dengan namanya, kalimat luas setara memuat kata penghubung setara yang menghubungkan semua klausa yang ada. Akan tetapi hal ini bukanlah syarat mutlak, karena terkadang kalimat luas setara juga tidak memuat kata penghubung setara. Kata penghubung yang dapat digunakan dalam kalimat luas setara antara lain dan, lagi pula, serta, lalu, tetapi, kemudian, melainkan, sebaliknya, malahan, namun, dll. Ciri-ciri sebuah kalimat luas setara antara lain Penggabungan klausa disertai dengan perubahan intonasi Kata penghubung berfungsi sebagai pembeda sifat kesetaraan Kedudukan pola kalimat dalam setiap klausa berderajat sama Pola umum yang digunakan S-P + S-P Contoh dari kalimat luas setara antara lain Ayahku bersuku Jawa sedangkan ibuku bersuku Sunda. Ani membeli roti dan Ana membeli susu. Anda ingin mengambil sendiri barang ini atau kami yang mengatarkan kepada Anda? Kami melihat situasi dahulu, lalu kami segera melarikan diri. Daerah ini memang rawan kecelakaan, apalagi kalau tidak berhati-hati dalam berkendara. 2. Kalimat Luas Tak Setara Jenis kalimat luas yang kedua adalah kalimat luas tak setara atau yang biasanya disebut dengan kalimat luas bertingkat. Kalimat luas tak setara terdiri dari dua buah klausa yang tidak setara dan dihubungkan dengan kata penghubung, seperti sebab, kalau, meskipun, karena, dll. Kedudukan klausa dalam kalimat luas tak setara tidak sama derajatnya. Klausa dalam kalimat luas tak setara terdiri dari induk kalimat dan anak kalimat. Penggunaan kata penghubung yang berbeda dalam kalimat luas tak setara akan memberikan makna yang berbeda pula. Contoh dari kalimat luas tak setara antara lain Tomi tewas tenggelam di sungai karena ia tidak bisa berenang. Demam pada anak itu sangat tinggi sampai badannya kejang. Saya akan datang ke acara itu jika ada yang menginginkanku datang. Jalanan kota ini diperlebar agar semua kendaraan dapat lewat dengan lancar. Aku sudah menyelesaikan semua pekerjaan rumah sebelum suamiku pulang ke rumah. Selain jenis kalimat luas setara dan kalimat luas tak setara, masih ada pengelompokan lain dari kalimat luas yaitu berdasarkan pola-pola dasar yang dianggap menjadi dasar pembentukan kalimat tersebut. 1. Pola Kalimat I Pola kalimat luas yang pertama adalah “kata benda – kata kerja”. Nama lain untuk kalimat jenis ini adalah kalimat verbal. Contoh kalimat luas pola I adalah Ibu memasak. kata “ibu” kata benda, sedangkan kata “memasak” kata kerja Adik menyanyi. kata “adik” kata benda, sedangkan kata “menyanyi” kata kerja 2. Pola Kalimat II Pola kalimat luas yang kedua adalah “kata benda – kata sifat”. Nama lain untuk kalimat jenis ini adalah kalimat atributif. Contoh kalimat luas pola II adalah Rumah mungil. kata “rumah” kata benda, sedangkan kata “mungil” kata sifat Anak rajin. kata “anak” kata benda, sedangkan kata “rajin” kata sifat 3. Pola Kalimat III Pola kalimat luas yang ketiga adalah “kata benda – kata benda”. Nama lain untuk kalimat jenis ini adalah kalimat nominal atau kalimat ekuasional. Jenis kalimat ini seringkali mengandung kata bantu seperti adalah, menjadi, dan merupakan. Contoh kalimat luas pola III adalah Ayah adalah pensiunan. kata “ayah” kata benda, sedangkan kata “penisunan” kata benda 4. Pola Kalimat IV Pola kalimat luas yang keempat adalah “kata benda – adverbial”. Nama lain untuk kalimat jenis ini adalah kalimat adverbial. Contoh kalimat luas pola IV adalah Pak Ahmad dari kantor. kata “Pak Ahmad” kata benda, sedangkan kata “dari kantor” adverbial Contoh Kalimat Luas Supaya lebih memahami tentang kalimat luas, berikut disajikan beberapa contoh kalimat luas dalam bahasa Indonesia. Ibu memasak rica-rica entok untuk menyambut kedatangan ayah. Rani rajin belajar guna mendapatkan juara pertama di kelas. Ayu tidak mau menolong orang lain selain kerabatnya. Kakak tidak akan pulang kecuali ayah memaafkannya. Yuni memanggil Tari dengan melambaikan tangan. Aku memasak sambil menggendong anakku. Kami sudah tahu bahwa ia yang mencuri semua uang panti ini. Mereka tidak sadar bahwa tindak-tanduk mereka sudah terekam CCTV. Ibu membeli kain sutra, yang harganya berkali-kali lipat dari harga kain biasa. Mereka menyusun semua buku bacaan ini supaya tampak rapi. Perbanyaklah bersholawat agar kelak mendapatkan syafaat Nabi Muhammad SAW. Aku tidak akan pernah pergi seumpama ibu tidak mengizinkan. Sekiranya ia adalah seorang ibu, tentu ia dapat mengerti sakitnya ditinggalkan seorang anak. Andaikan kami punya banyak waktu, kami akan mengerjakannya lebih baik lagi dari ini. Jika hujan tidak turun, aku akan segera pergi dari rumah ini. Kami bermain ke sawah sampai lupa waktu. Aku pindah rumah karena sewa rumahnya murah. Mereka lebih suka durian daripada nangka. Dia baru muncul sementara yang lain sudah hampir pulang. Kami baru akan keluar rumah tatkala gempa bumi terjadi. Ayah mendengar suara adzan lantas beliau terbangun. Setiap hari saya memasak dan menyelesaikan semua pekerjaan rumah. Sejak ibu meninggalkan rumah, ayah tidak lagi mengurus dirinya sendiri. Dia tetap menjemput ibunya meskipun hujan deras sekali. Dia terkejut seperti tersambar petir di siang bolong. Artikel bahasa lainnya kalimat minor dan kalimat mayor contoh karangan persuasi contoh majas anadiplosis contoh majas asonansi dalam puisi jenis jenis makna kata contoh makna refleksi makna struktural cara membedakan pelengkap dan keterangan kata benda konkret dan kata benda abstrak contoh pantun talibun contoh teks prosedur kompleks makna sinestesia dan contohnya contoh dongeng fabel singkat contoh syair nasihat 4 bait dan maknanya jenis jenis drama berdasarkan wujud pementasan contoh hikayat singkat contoh syair pendidikan dan maknanya Sekian pembahasan mengenai pengertian kalimat luas beserta contohnya dalam bahasa Indonesia. Semoga pemaparan materi dalam artikel ini mudah dipahami dan juga dapat bermanfaat bagi para pembaca sekalian. Terima kasih.
1. Jika uraian paragraf melebihi 100 kata maka paragraf sebaiknya dibuat menjadi... ○ Satu paragraf ○ Dua paragraf ○ Tiga paragraf ○ Empat paragraf ○ Lima paragraf Jawaban Dua paragraf 2. Satuan bahasa yang lebih luas dari kalimat adalah... ○ Demograf ○ Paragraf ○ Gravity ○ Kata ○ Huruf Jawaban Paragraf 3. Fungsi paragraf bagi penulis antara lain... ○ Penulis tidak cepat lelah dalam menyelesaikan karangan ○ Pembaca menikmati isi karangan ○ Pembaca tertarik dengan isi cerita ○ Pembaca lebih semangat membaca ○ Pembaca lebih termotivasi Jawaban Penulis tidak cepat lelah dalam menyelesaikan karangan 4. Kalimat topik dalam paragraf yang ditempatkan pada semua kalimat dalam paragraf disebut... ○ Desimal ○ Narasi ○ Produktif ○ Pasif ○ Deskriptif Jawaban Deskriptif 5. Kalimat topik pada awal paragraf disebut... ○ Deduktif ○ Induktif ○ Deduktif-induktif ○ Ineratif ○ Deskriptif Jawaban Deduktif 6. Salah satu syarat paragraf yang baik dan efektif antara lain... ○ Semua kalimat harus mengemukakan satu tema yang jelas ○ Kesatuan yang tidak padu ○ Tidak ada keterkaitan antar kalimat ○ Satu paragraf memiliki tiga gagasan utama ○ Hanya terdiri dari satu kalimat Jawaban Semua kalimat harus mengemukakan satu tema yang jelas 7. Jumlah minimal kalimat dalam satu paragraf adalah... ○ Satu kalimat ○ Dua kalimat ○ Tiga kalimat ○ Empat kalimat ○ Lima kalimat Jawaban Tiga kalimat 8. Fungsi paragraf bagi penulis meliputi... ○ Pembaca tertarik dengan cara menjelaskan ○ Pembaca belajar menyampaikan ide gagasan ○ Penulis lebih termotivasi menyelesaikan tulisannya ○ Pembaca cepat bosan ○ Pembaca kesulitan memahami isi cerita Jawaban Penulis lebih termotivasi menyelesaikan tulisannya 9. Pilihan kata disebut juga dengan... ○ Diksi ○ Diktat ○ Disket ○ Difabel ○ Diva Jawaban Diksi 10. Kata lain dari paragraf adalah... ○ Alinea ○ Alien ○ Frasa ○ Alexa ○ Alenia Jawaban Alinea NB Mohon tinggalkan jejak komentar di postingan ini, sebuah kritik dan saran kalian akan sangat berarti bagi admin blog agar blog ini semakin maju dan berkembang. Terima kasih
Satuan lingual adalah unsur-unsur atau komponen yang secara teratur tersusun menurut pola tertentu, dan membentuk suatu kesatuan Chaer 2014 34. Bentuk satuan lingual atau satuan bahasa secara linguistik memiliki urutan dari yang terkecil ke yang terbesar, maka urutannya sebagai berikut. Bagan 1. Hierarki Satuan Bahasa a. Fonem Menurut Kridalaksana 198344 Fonem adalah satuan bunyi terkecil yang mampu menunjukkan kontras makna, fonem merupakan abstraksi, sedangkan wujud fonetisnya bergantung beberapa faktor, terutama posisinya dalam hubungan dengan bunyi lain. hal yang sama juga disampaikan oleh Chaer 200962, fonem merupakan abstraksi dari satu atau sejumlah fon, entah vokal maupun konsonan. Konsep fonem adalah satu kesatuan terkecil yang dapat membedakan makna. Wacana Kalimat Klausa Frasa Kata Morfem Fonem 23 b. Morfem Di atas satuan silabel secara kualitas ada satuan lain yang fungsional disebut morfem yang merupakan satuan gramatikal terkecil yang mempunyai makna. Sebuah morfem diketahui jika satuan bentuk bisa hadir secara berulang-ulang dengan bentuk lain Chaer, 2007146-147. Pengertian morfem juga dikemukakan oleh Kridalaksana 1983110, morfem adalah satuan bahasa terkecil yang maknanya secara relatif stabil dan yang tidak dapat dibagi atas bagian yang bermakna lebih kecil. Dapat disimpulkan bahwa kata bukanlah satuan bahasa terkecil yang bermakna, karena kata masih dapat diuraikan. Satuan bahasa yang terkecil dan bermakna adalah morfem yang memiliki sifat arbriter, maksudnya tidak ada hubungan wajib antara bunyi dari sebuah morfem dengan maknanya. Makna dari sebuah morfem bersifat konvensional, belum tentu sama dengan objek yang diwakili morfem tersebut. Menurut Ba’dulu dan Herman 2005 8 pada dasarnya, morfem adalah unsur abstrak dari analisis, dan apa yang sesungguhnya terjadi adalah dalam bentuk fonetis atau ortografis yang mewakili morfem. Apabila untaian fonetis atau ortografis yang merealisasikan morfem dapat dipilah-pilah, maka bagian itu diistilahkan morf. Morf dapat didefinisikan sebagai bagian atau ruas dari benttuk kata yang mewakili suatu morfem tertentu. c. Kata Kata adalah satuan bahasa yang memiliki satu pengertian, deretan huruf yang diapit oleh dua buah spasi dan mempunyai satu arti Chaer, 2007 162. Batasan kata menyiratkan dua hal. Pertama, bahwa setiap kata mempunyai susunan fnem yang urutannya tetap dan tidak berubah, serta tidak dapat diselipi atau diselang oleh fonem lain. kedua, setiap kata mempunyai kebebasan berpindah tempat di dalam kalimat atau tempatnya dapat diisi atau digantikan oleh kata lain, atau juga dapat dipisahkan dari kata lain. Menurut Kridalaksana 198376 kata merupakan morfem atau kombinasi morfem yang bahasawan dianggap sebagai satuan terkecil yang dapat diujarkan 24 sebagai bentuk yang bebas. Satuan bahasa yang dapat berdiri sendiri, terjadi dari morfem tunggal atau gabungan morfem. Kata adalah satuan atau bentuk “bebas” dalam tuturan. Bentuk “bebas” secara morfemin adalah bentuk yang dapat berdiri sendiri, artinya tidak membutuhkan bentuk lain yang digabungkan dengannya, dan dapat dipisahkan dari bentuk-bentuk “bebas” lainnya di depannya dan di belakangnya, dalam tuturan Verhaar 2012 97. Berdasarkan dari beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa kata adalah satuan bahasa terkecil yang dapat berdiri sendiri, dapat diujarkan dan memiliki satu pengertian atau arti. Kata juga bisa berbentuk morfem tunggal atau gabungan dari beberapa morfem. Klasifikasi kata menurut tata bahasawan berbeda-beda penyebutan selama berjalannya waktu, penyebutan sama namun berbeda pada jenis penggolongannya. Kata penuh meliputi kategori nomina, ajektiva, verba, adverbia, dan nemuralia, sedangkan yang termasuk kata tugas adalah kata dengan kategori preposisi dan konjungsi. Klasifikasi kata berdasarkan proses distribusinya meliputi morfem bebas dan morfem terikat, sedangkan berdasarkan gramatikalnya dapat digolongkan menjadi kata monomorfemis dan polimorfemis. d. Frasa Menurut Chaer 2007 222 Frasa didefinisikan sebagai satuan gramatikal yang berupa gabungan kata yang bersifat nonpredikatif, atau juga disebut gabungan kata yang mengisi salah satu fungsi sintaksis di dalam kalimat. Frasa pasti terdiri lebih dari satu kata. Kalau yang dimaksud kata adalah satuan gramatikal bebas terkecil, maka pembentuk frasa harus berupa morfem bebas, bukan terikat. Frasa adalah konstruksi nonpredikatif, berarti hubungan antara kedua unsur yang membentuk frasa itu tidak berstruktur subjek-predikat atau predikat-objek. Sejalan dengan pendapat Boomfield dalam Sulistyowati 2012 konsep frasa “A free from which consistsentirely of two or more less free froms, ... is a phrase”. Bentuk bebas yang tetap terdiri atas dua atau lebih adalah frasa. Dapat disimpulkan bahwa frasa adalah satuan gramatik yang terdiri atas dua kata atau lebih ynag bersifat non-predikatif dan tidak melampaui batas fungsi dari unsur klausa dan 25 selalu terdapat dalam satu fungsi unsur klausa. Frasa dapat diklasifikasikan menjadi beberapa macam jenis, yaitu berdasarkan distribusi unsur-unsurnya dan berdasarkan kelas katanya. Berdasarkan distribusi unsur-unsurnya dalam sebuah kalimat, frasa dibagi menjadi dua tipe, yaitu frasa endosentrik dan frasa eksosentrik. 1. Frasa Endosentrik Frasa endosentris adalah frasa yang berdistribusi paralel dengan pusatnya Verhaar dalam Sukini 2010 21. Frasa endosentris berdistribusi sama dengan unsurnya, baik semua unsurnya maupun salah satu dari unsurnya. Misalnya, Tas baru, sedang membaca, jalan raya dan lainnya. Frasa endosentris dibedakan menjadi tiga golongan, yaitu frasa endosentris koordinatif, frasa endosentris atributif, dan frasa endosentris apositif. Frasa endosentris koordinatif ialah frasa yang terdiri atas unsur-unsur yang kedudukannya setara, yang satu tidak tergantung pada yang lain Sukini, 2010 24. Pengertian tersebut sependapat dengan Ramlan 2005 142 yang menyatakan bahwa frase endosentrik yang koordinatif terdiri dari unsur-unsur yang setara. Kesetaraannya itu dapat dibuktikan oleh kemungkinan unsur-unsur itu dihubungkan dengan kata penghubung dan atau atau, misalnya rumah pekarangan dan adik kakak. Frasa endosentris yang kedua adalah frasa endosentris atributif. Frasa endosentris yang atributif adalah frasa yang terdiri atas unsur-unsur yang tidak setara. Menurut Sukini 2010 25, unsur frasa endosentris atributif terdiri atas unsur pusat atau unsur yang diterangkan D dan unsur atributif atau penjelas atau unsur yang menerangkan M. Urutannya bisa D-M, bisa pula M-D. Contohnya, ATM BRI, Hotel Ayodya Raya, sedang belajar dan lainnya. Terakhir adalah frasa endosentrik apositif, frasa yang secara semantik unsur yang satu sama dengan unsur yang lain, dan dapat saling menggantikan. Frasa endosentrik apositif memiliki unsur pusat dan unsur aposisi, di antara unsur pusat dengan unsur aposisi digunakan tanda koma. Contohnya, Semarang, Provinsi 26 2. Frasa Eksosentrik Frasa eksosentrik adalah frasa yang tidak sama dengan kategori unsur pusatnya, frasa yang tidak mempunyai distribusi yang sama dengan unsur-unsurnya. Contonya, di kebun. Menurut jenisnya frasa eksosentrik dibagi menjadi dua, yaitu frasa eksosentrik direktif dan frasa eksosentrik konektif. Menurut Sukani 2010 27 frasa eksosentrik direktif adalah frasa yang terdiri atas unsur perangkai dan sumbu atau pusat. Jadi frasa eksosentrik direktif memiliki dua komponen, yaitu komponen perangkai dan komponen sumbu atau pusat. Contohnya, kepada saya, ke pasar, Sang Pangeran, karena sakit dan lainnya. Berdasarkan kelas katanya, frasa dibagi menjadi lima jenis, yaitu 1 frasa nominal, 2 frasa verbal, 3 frasa adjektival, 4 frasa numeral, dan 5 frasa preposisional. Jenis frasa nominal, verbal, adjektival, dan numeral tergolong frasa endosentrik, sehingga kategori frasa yang bersangkutan sama dengan kategori-kategori unsur pusat atau intinya. Sedangkan frasa preposisional merupakan frasa eksosentrik direktif proposional, yang terdiri atas dua unsur perangkai yang berupa preposisidan unsur lain sebagai sumbu. Menurut Baehaqie 2008 26 berdasarkan makna konstituen-konstituen leksikal pembentuknya, frasa dapat dibedakan menjadi frasa lugas dan frasa idomatis. Frasa lugas ialah frasa yang maknanya masih lugas sebagaimana konstituen-konstituen leksikal pembentuknya. Contohnya, buku tulis dan baju baru. Kebalikannya ialah frasa idiomatis, artinya makna yang terbentuk tidak bisa diuraikan berdasarkan konstituen-kontituen leksikal pembentuknya. Beberapa idiom dalam bahasa Indonesia merupakan bentuk beku tidak dapat berubah, artinya kombinasi dalam idiom bersifat tetap. Contohnya, keras kepala dan naik darah. Baehaqie 2014 54 juga menjelaskan, diilihat dari tingkat keidiomannya, frasa idiomatis ada yang beridiom penuh seperti anak bawang dan putu ayu; tetapi, ada frasa idiomatis yang beridiom sebagian; misalnya, gang tikus, duduk manis, dan jenang sepuh. e. Klausa Klausa adalah tataran di dalam sintaksis yang berada di atas frasa dan di bawah tataran kalimat. Klausa adalah satuan sintaksis yang berupa runtutan kata-27 kata berkontruksi predikatif. Artinya, di dalam konstruksi ada komponen berupa kata atau frasa, yang berfungsi sebagai predikat dan yang lain berfungsi sebagai subjek, sebagai objek, dan sebagai keterangan. Selain fungsi predikat harus ada, fungsi subjek juga bisa dikatakan wajib. Klausa dijelaskan sebagai satuan gramatik yang terdiri dari subjek, objek, predikat, baik disertai objek, pelengkap dan keterangan ataupun tidak Ramlan, 2005 79. Konsep mudahnya, klausa adalah S P O pel Ket. Tanda kurung pada konsep tersebut menandakan bahwa fungsi yang terdapat didalamnya bersifat manasuka, keberadaan fungsi tersebut boleh ada boleh tidak. Jadi, untuk unsur atau fungsi utama dari klausa adalah subjek S dan predikat P. Contohnya - Kakak menari - Bajuku keren Terkadang klausa tidak disertai dengan subjek. Biasanya terdapat pada kalimat jawaban dan kalimat majemuk yang merupakan akibat dari penggabungan klausa. Contohnya - Kalimat jawaban sedang berdiri’ Sebagai jawaban dari pertanyaan Muslimah sedang apa?’ - Kalimat majemuk walaupun sakit, Fikri masih sempat kuliah’ Pada contoh tersebut, terdapat klausa yang hanya terdiri dari predikat. Kalimat tersebut merupakan kalimat majemuk yang terdiri atas Fikri masih sempat kuliah’ adalah induk kalimat klausa inti, dan walaupun sakit’ merupakan anak kalimat klausa sematan. Unsur subjek dari kedua kalimat tersebut induk kalimat dan anak kalimat adalah sama, yaitu Fikri’ sehingga unsur subjek tersebut tidak dimunculkan pada anak kalimat. Maka pada anak kalimat hanya terdiri atas unsur predikat sakit’ dan tambahan konjungsi walaupun’. f. Kalimat Menurut Kridalaksana 198371 kalimat adalah satuan bahasa yang relatif berdiri sendiri, mempunyai pola intonasi final dan secara aktual maupun potensial terdiri dari klausa; klausa bebas yang menjadi bagian kognitif percakapan; satuan proposisi yang merupakan gabungan klausa atau merupakan satu klausa yang 28 membentuk satuan bebas; konstruksi gramatikal yang terdiri atas satu atau lebih klausa menurut pola tertentu, dan dapat berdiri sendiri sebagai satuan. Definisi lain juga diungkapkan oleh Chaer 2007 240 kalimat adalah susunan kata-kata yang teratur yang berisi pikiran yang lengkap. Selanjutnya, menurut Parera dalam Ba’dulu dan Herman, 2005 48-49 mengemukaan bahwa kalimat adalah sebuah bentuk ketatabahasaan yang maksimal yang tidak merupakan bagian dari bentuk ketatabahasaan lain yang lebih besar dan mempunyai ciri kesenyapan final yang menunjukkan bentuk itu berakhir. Terakhir Samsuri 1983 53 menyatakan bahwa kalimat adalah untaian yang berstruktur dari kata. Dari pengertian-pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa kalimat merupakan kontruksi gramatikal yang terdiri atas satu klausa atau lebih dan relatif berdiri sendiri dengan pola tertentu serta mempunyai pola intonasi final. Berdasarkan pada definisi-definisi kalimat di atas, kalimat mempunyai ciri-ciri sebagai berikut Cook dalam Ba’dulu dan Herman, 2005 49 1. Kalimat relatif dapat dipisahkan, dan korpus apa saja dapat direduksi menjadi kalimat. 2. Kalimat mempunyai pola intonasi final, yang dapat membantu memisahkan kalimat. 3. Kalimat terbentuk dari klausa. Klausa berkombinasi dalam suatu jenis ketergantunagna terpola yang mencakup kombinasi klausa yang tidak mempunyai struktur menyeluruh dari suatu klausa tunggal. Cook juga mengklasifikasikan kalimat berdasarkan kriteria-kriteria berikut 1. Berdasarkan jumlah dan jenis klausa dalam basis, kalimat diklasifikasikan sebagai kalimat sederhana, kalimat kompleks, dan kalimat majemuk. 2. Berdasarkan struktur internal klausa utama, kalimat diklasifikasikan sebagai kalimat sempurna atau kalimat atak sempurna. 3. Berdasarkan jenis responsi yang diharapkan, kalimat diklasifikasikan sebagai kalimat pertanyaan, kalimat pernyataan, dan kalimat perintah. 4. Berdasarkan sifat hubungan aktor-aksi, kalimat diklasifikasikan sebagai 29 5. Berdasarkan ada tidaknya unsur negatif dalam frasa verbal, kalimat diklasifikasikan sebagai kalimat afirmatif dan kalimat menyangkal. Dari semua jenis kalimat yang dikemukaan oleh Cook, dapat digolongkan ke dalam dua jenis utama kalimat, yaitu kalimat inti dan kalimat turunan. Kalimat inti adalah kalimat yang bisa menjadi dasar dari pembentukan kalimat-kalimat lain, sedangkan kalimat turunan adalah kalimat yang diturunkan dari kalimat inti. g. Wacana Wacana adalah satuan kebahasaan yang unsurnya terlengkap, tersusun oleh kalimat atau kalimat-kalimat, baik lisan maupun tulis yang membentuk suatu pengertian yang serasi dan terpadu, baik dalam pengertian maupun dalam manifestasi fonetisnya. Wacana menjadi suatu rangkaian bahasa yang sinambung, selesai, bermakna lebih luas daripada kalimat yang berfungsi dalam pengungkapan dan pemahaman dalam interaksi kebahasaan Hartono, 201210-12. Selanjutnya Kridalaksana 1983179 wacana discourse merupakan satuan bahasa terlengkap; dalam hierarki gramatikal merupakan satuan gramatikal tertinggi atau terbesar. Wacana bisa direalisasikan dalam bentuk karangan yang utuh novel, buku, seri ensiklopedia, dan sebagainya, paragraf, kalimat atau kata yang membawa amanat yang lengkap. Menurut Stubbs dalam Tarigan, 2009 24 wacana adalah organisasi bahasa di atas kalimat atau di atas klausa; dengan kata lain, unit-unit linguistik yang lebih besar daripada kalimat atau klausa, seperti pertukaran percakapan atau teks-teks tertulis. Secara singkat apa yang disebut teks bagi wacana adalah kalimat bagi ujaran atau utterance. Pengertian tentang batasan wacana juga dikemukakan oleh Tarigan 2009 26, wacana adalah satuan bahasa yang terlengkap dan tertinggi atau terbesar di atas kalimat atau klausa dengan koherensi dan kohesi tinggi yang berkesinambungan yang mempunyai awal dan akhir yang nyata disampaikan secara lisan atau tertulis. Terdapat delapan unsur-unsur penting yang harus terkandung dalam sebuah wacana, yaitu satuan bahasa, terlengkap dan terbesar atau tertinggi, di atas kalimat atau klausa, teratur atau rapi koherensi, berkesinambungan kontinuitas, kohesi kepaduan, lisan dan tulis, serta mempunyai awal dan akhir yang nyata.
satuan bahasa yang lebih luas dari kalimat adalah